D4

DEEE EMPAAAAATTTTTT. AKHIRNYA KELUAR PENGUMUMANNYAAAAAAAA. tahun ini harus lulus! aaaaaaaaaamiiiiiiiiiinnnnn

Sekilas backstory. Dikarenakan saya adalah lulusan STAN, maka gelar tertinggi saya adalah D3. Untuk menaikkan gelar tersebut, pilihannya ada dua, ikut tugas belajar, atau ijin belajar. Tugas belajar itu saya akan ditugaskan untuk belajar, penuh, tanpa terganggu rutinitas kantor. sedangkan kalo ijin belajar, saya harus tetap masuk kantor seperti biasa. pulang kantor baru bisa ikut kuliah.

Nah, karena saya juga mendapat penempatan yang jauh dari rumah, salah satu cara untuk bisa balik ke deket rumah adalah dengan tugas belajar. Kenapa? Karena statistik berkata 90% lulusan Tugas Belajar dapat penempatan yang deket rumah. Sebuah kesempatan besar! Tugas belajar yang paling rutin ada adalah DIV. maka itulah peluang saya untuk bisa pulang 😀

Jadi, tahun lalu, saya sebenarnya sudah bisa ikut ujian D4.  dan tentu saja saya ikuti ujian itu. Saya sudah berusaha mempersiapkan diri saya sebaik mungkin, namun apa daya, nasib berkehendak lain. Walau saya curiga ada hubungannya dengan gambar Super Saiya-jin saat psikotes. Oh iya, lupa belum cerita. Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya,  untuk bisa menempuh pendidikan DIV, kami para lulusan D3 harus lulus tes terlebih dahulu. Nah, tesnya terdiri TKD (tes kemampuan dasar yang berisi soal-soal matematika dasar (dan rada drumit), bahasa indonesia,dan logika), bahasa inggris (you know lah, kek toefl gitu), dan Psikotes. Nah, untuk TKD dan Bahasa Inggris saya sudah mempersiapkan diri. latihan setiap malam ditemani suara merdu si dia yang juga belajar. Tapi untuk psikotes, saya rada….gabungan skeptis, sinis, dan pesimis. Pesimis karena saya ga bisa gambar sedangkan salah satu tes psikotes adalah menggambar, skeptis dan sinis karena saya tau bahwa di luar sana, di dunia nyata, di toko buku, beredar latihan-latihan untuk psikotes yang semuanya nyaris mengajarkan hal yang sama. harus gambar ini lah, harus gambar itu lah, harus mulai dari nomor ini lah, nomor itu lah. Menurut saya itu bullshit. kalo semua orang membaca buku itu? berarti jawaban mereka semua sama dong? mereka semua gambar hal yang sama dong? terus? gimana ngukurnya? gimana parameter atau variabel penentu kelulusannya ditentukan?

Karena hal tersebut, saya rada ga serius untuk psikotes. ketika si dia udah serius latihan keras, saya latihan seadanya. Saat ujian, para peserta lain menggambar guru, pelukis, petinju, atlit bola, saya menggambar Super Saiya-jin, dengan skill gambar yang jauh di bawah rata-rata. Dan hasilnya? si dia lulus, saya ga lulus. OTL

Kembali ke masa kini, sekarang saya punya motivasi lebih untuk lulus DIV tahun ini. Iming-iming bisa pulang, dan bisa menemani si dia selama 2 tahun 😀 Saya akan berusaha lebih keras lagi untuk bisa lulus. Doakan saya ya.

*note to self: cari buku-buku psikotes

Doakan saya ya Sayangku, Ajari saya cara gambar yang baik yaaaaaa

dan tak lupa,

15 days to go