11 Maret 2013

Pria itu terbangun. Diliriknya arloji yang tergeletak di samping bantal yang basah oleh keringatnya. Kenapa dia berkeringat sebanyak itu? Pikirnya. Ah iya, Surabaya. Panas. Wajar kalau dia bisa basah kuyup. Arlojinya menunjukkan pukul satu siang.

“3 jam lagi”, gumamnya. Tiga jam lagi sebelum waktunya ia menjemput seseorang dan melaksanakan rencananya. Rencana yang telah ia susun dua bulan lalu. Rencana yang ia rahasiakan dari orang yang akan dijemputnya 3 jam lagi. Dia masih ingat betapa marahnya seseorang itu ketika dia lebih memilih melaksanakan tahapan rencananya daripada pergi menemuinya di hari ulang tahunnya. Tak mengapa, ulang tahun bisa tahun depan. Rencana ini hanya bisa dilaksanakan sekali.

Matanya tertumbuk pada kotak hitam beludru kecil di samping arlojinya. Sambil tersenyum ia meraihnya. Memainkannya. Membuka lalu menutupnya berulang kali. Memeriksa isinya, sebuah cincin putih berkilap. Sang pria tampaknya tidak puas hanya melihatnya. Ia mengambil cincin itu, mencobanya di jarinya sendiri. Tersenyum ia membayangkan betapa indahnya jari seseorang itu nanti ketika mengenakan cincin ini di jari manisnya. Senyumnya makin lebar ketika lamunannya berlanjut. Ia kini membayangkan senyuman indah penerima cincin itu nanti.

Mendadak jantungnya berdebar. Kencang. Dia gelisah, gugup. berulang kali dia merubah posisi tidurnya. Tak berhasil. Kegelisahan itu masih terus menggelayut. Tak mau lepas. Kegelisahan seseorang yang akan melakukan suatu hal penting dalam hidupnya. Sang pria memutuskan beranjak dari tidurnya. menyibukkan diri dengan hal lain. Memeriksa semua tahapan akhir rencananya. Apa yang terlewat olehnya. Sejauh ini semuanya sudah berjalan sesuai rencana. 3 jam lagi ia akan menjemput orang itu, orang yang telah menjadi matahari di hidupnya. Cambuk yang melecutnya untuk menjadi lebih baik. Kekasih yang dengannya telah ia bayangkan indahnya masa depan. Dia lalu akan membawanya ke tempat paling romantis di kota itu.

Ah iya, Aku belum memesan tempatnya, pikirnya. Nanti sajalah, hari kerja harusnya tempat itu tidak begitu ramai.

Detik demi detik, menit demi menit. 3 Jam pun berlalu. Mengenakan pakaian terbaiknya ia berangkat menjemput Pujaan Hati. Rasa gelisahnya yang sedari tadi membuatnya tidak betah menanti waktu tiba-tiba hilang. Tubuhnya sepertinya memberikan kesempatan untuk bernafas. Mengambil kesempatan itu, Dia menarik nafas panjang.

Kendaraannya melaju pelan. Macetnya kota membuatnya seperti itu. Tak mengapa, dia akan sampai tepat pada waktunya nanti. Kemacetan ini sudah diperkirakannya. Sambil mengawasi jalan dan pengendara motor yang sering seenaknya, pikirannya melayang ke nostalgi. Teringat ia akan kencan pertamanya dulu. Akan ketakjubannya akan pesona sang Kekasih saat bertemu di tempat yang dijanji. Akan senyum gembiranya dia setiap kali dia bertemu dengannya.

Lamunannya terhenti oleh rintik hujan. Dia melihat langit. Mendung. Dan rintik tadi dengan sekejap menjadi deras. Sial, gagal sudah Plan A. Dengan cepat ia menyusun rencana cadangan. Oke, rencana yang ini tidak buruk. Cukup unik malah, pikirnya.

20 menit menuju jam 5 sore Ia tiba di tempat itu, kantor sang Kekasih. Kotak beludru hitam ia letakkan di dalam tas merah sang Kekasih. Gelisah yang tadi hilang kini kembali menyapa. Dan dengan gelisah seperti ini, 20 menit akan terasa seperti seabad.

Kembali, detik demi detik, menit demi menit berlalu. Baru kali ini ia merasa relativitas yang begitu menyiksa. Dan ketika arlojinya menunjukkan pukul 5 tepat, makin tidak sabarlah ia. Berulang kali ia melirik HP, menanti tanda dari sang Kekasih. Tak lama kemudian, tanda yang ditunggu tiba. Dia melihat sang kekasih keluar dari pintu kantor.

Berusaha sekuat tenaga menutupi kegelisahannya Dia menghampiri sang Kekasih. Senyumnya terkembang saat sang Kekasih duduk di sampingnya

“Yuk, mau kemana kita?”

“Makan yuk, aku lapar nih. tapi hujan nih. Ga bisa di rooftop ya”

“Yaaaah. Mau gimana lagi ya.”

“Ada ide?”

“Ada sih, tapi nanti aja di jalan kita diskusikan. Oke sayang?” Ah senyum itu, sungguh ia ingin selalu bisa melihat senyum itu. Tiap detik.

Dengan perlahan ia memacu mobil. Berdesakan dengan mobil lain menyusuri jalanan Surabaya yang macet. Hujan yang tidak berhenti memperparah keadaan ini. Sang Pria kini merasa mau meledak. Jantungnya berdegup kencang. Kakinya mulai susah diajak bekerja sama mengendalikan mobil. Lidahnya mulai kelu. Dia tau ini waktunya. Waktunya ia untuk melaksanakan rencananya. Di tengah kemacetan. Di tengah derasnya hujan. Bukan waktu yang sempurna memang. Tapi tidak bisa ditunda lagi. Ia harus bergerak!

“Dek.”

Lidahnya kelu bukan main. Dengan susah payah menahan nada bicara ia berkata, “Tolong ambil tasmu yang merah dong dek.”

Dengan dagu yang berkenyit sang Kekasih mengambil tas itu. “Ada apa mas?”

“Coba buka tas depan.”

……

……

……

“Apa ini mas?” Sang Kekasih tampak kaget. Dia telah menemukan kotak itu. Sang pria melirik. Sang Kekasih mulai tersenyum.

“Coba kamu buka.” Sekuat tenaga sang Pria tersenyum. Dia berharap senyumnya tidak terlihat konyol di saat yang penting ini.

“…Ga mau, mas yang bukain.”

“Kan macet sayang”

“Ga mau. Pokoknya Mas yang buka!”

Menghela nafas, menghalau semua rasa groginya, ia mengawasi keadaan sekitar. Macet yang parah membuat mobil nyaris tidak bisa bergerak.

Sang Pria mengambil kotak itu. Dengan gemetar ia membukanya, menampilkan cincin putih berkilau itu, dan berkata. “Will You Marry Me?”

Advertisements

2 responses to “11 Maret 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s