Japan Trip, Part 5

10 October 2011, Day 5

Tokyo sepertinya habis dilanda hujan deras semalam. Jalanan tampak basah saat kami turun dari bus pada pukul 7 pagi. Dari tempat kami turun nampak Stasiun Tokyo yang sedang direnovasi, suatu hal yang luput dari pengamatan kami saat di Tokyo 3 hari lalu. Sambil menahan dinginnya udara pagi itu, kami berjalan memasuki stasiun tersebut. Berkaca dari pengalaman di Khaosan hostel bahwa nitip tas di penginapan itu dimungkinkan, kami, lebih tepatnya si Macan, menghubungi penginapan kami untuk di Tokyo, Ryokan Kangetsu. Dari hasil telpon tersebut diketahui bahwa kita bisa check in pagi itu juga. Sip, daripada bengong di pagi buta mending ke Ryokan dulu.

Dan lagi lagi, belajar dari pengalaman saat di Kyoto terkait bus pass, kami mencari info tentang tiket semacam itu untuk kereta api. Dan menurut petugas JR, ada tiket diskon untuk sehari, namanya Tokunai Pass, harganya 730 yen untuk sehari. Setelah berhitung tentang perkiraan berapa habisnya tiket kereta kami hari itu, kami putuskan untuk beli tiket tersebut. Dengan tiket tersebut kami bisa keliling rute JR kemana saja. Rute JR ya, bukan rute subway ataupun rute kereta yang dioperasikan oleh perusahaan lain. Sebagai contohnya, untuk mencapai Ryokan Kangetsu di daerah chidori-otaku, kami harus ganti kereta dari JR ke Tokkyu. Untuk kereta JR kami tak perlu bayar lagi, tapi untuk kereta Tokkyu kami tetap harus bayar.

Saat Macan dan Tante membeli tokunai pass tersebut, ada kejadian yang cukup menarik. Si Om disamperin oleh polisi jepang. Menurut pengakuannya, polisi tersebut tiba-tiba menghampiri ia dan meminta kartu identitas. Saya yang waktu itu ikut bareng Macan dan Tante ga sengaja melihat si Om dan si polisi. Dengan hati yang penasaran saya hampiri mereka berdua. Ketika si polisi melihat saya, ia bertanya apakah saya temannya si Om. Saya jawab iya dan saya pun diminta untuk menujukkan kartu identitas saya. Ya sudah, saya keluarkan paspor saya. Setelah mengecek paspor dan visa kami berdua, polisi itu pun pergi. Hmm, apa karena kami tampak seperti gelandangan ya? Naruh ransel di lantai dan clingak-clinguk ga jelas sambil nunggu Macan nelpon ryokan.

Kami tiba di ryokan pada sekitar jam 9. Dan lagi-lagi karena kami lupa nyetak rute ke ryokan dari stasiun chidoricho, kami sempat nyasar. Sebenarnya sih ryokan sudah memasang papan petunjuk di sekitar stasiun, mata kami saja yang kurang jeli dan sempat luput melihat salah satu papan petunjuknya. Macan kembali beraksi, ia bertanya pada sepasang suami istri yang sedang jalan-jalan pagi bersama anjing-anjingnya. Kebetulan rute jalan-jalan suami istri tersebut melewati ryokan 🙂 Begitu kami tiba di gerbang depan ryokan, saya sempat rada ilfil. Saat melihat tampilan di websitenya, Ryokan Kangetsu terlihat indah, mengusung nuansa tradisional. Tapi yang saya liat benar benar “tradisional” alias kek ga terawat. Well okay, mungkin hanya perasaan saya saja, dan mungkin juga karena saya membandingkannya dengan Khaosan yang tertata rapi dan semi modern. Begitu saya memasuki Ryokan tersebut, ke-ilfil-an saya berkurang. Not bad lah untuk sebuah penginapan yang mengusung nuansa tradisional. Lagipula, yang kami incar dari ryokan ini memang ketradisionalannya itu, dan fasilitas tambahannya, Ofuro.

Photo by M Taufiq Rahmananda

Setelah istirahat sejenak di Ryokan dan, tentunya, mandi, kami berangkat menuju Shibuya. Tujuan kami ke Shibuya tak lain untuk melihat patung Hachiko. Udah pada tau kisah si Hachiko kan? Yang belum tau sana gugling dulu 😀 Begitu sampai di Shibuya, kami mendengar ada suara musik. Wah, kekna lagi ada konser nih di sekitar situ. Dan setelah kami telusuri, arah musik tersebut datang dari lokasi sekitar patung Hachiko. Kebetulan. Saat kami sudah dekat, baru kami liat dengan jelas sumber musik tersebut. Ada semacam idol mini concert. Lagunya lumayan catchy dan bikin terngiang-ngiang terus (sayangnya sekarang sudah lupa :v)

Di shibuya kami berkeliling sebentar. Si Om yang dari awal trip ini berkata ingin mencari baju di Uniqlo mengajak kami masuk ke gerai Uniqlo yang ada di gedung Shibuya 109. Sayang baju dengan harga yang dia inginkan tidak ada. Kami keluar dengan tangan hampa :v Lepas dari shibuya kami melanjutkan perjalanan ke Harajuku. Begitu keluar dari stasiun Harajuku, kami disambut oleh gerbang unik Takeshita Street. Menurut Macan, Takeshita Street adalah jalan yang sangat ramai di Harajuku. Dan benar, jalan tersebut sangaat ramai oleh pejalan kaki. Saya heran apa yang membuat jalan ini begitu ramai. Begitu kami memasuki jalan tersebut, saya mulai mendapatkan jawabannya. Ada banyak toko di situ. Ada toko pakaian, toko pernak-pernik idol, dan yang mungkin paling menarik pengunjung, toko Daiso. Toko Daiso ini kalo di Indonesia kek toko serba lima ribu, serba sepuluh ribu, atau semacamnya. Jadi, kalau barang di Daiso tidak ada label harganya, brarti harganya 105 yen. Murah ya?

Photo by Arga Purna Putra

Saking ramainya Takeshita, Harajuku Street sampai kalah. Takeshita street memang jalan yang menuju Harajuku Street kalau kita masuk dari Stasiun Harajuku. Kami sempat melongok Harajuku Street, tapi karena ga ada apa-apa, kami kembali ke stasiun untuk melanjutkan perjalanan ke daerah Shinjuku.

Di Shinjuku, tujuan utama kami adalah ke gedung Tokyo Metropolitan Government Building. Menurut review yang kami baca di internet, gedung tersebut bagus kalau kita ingin melihat Tokyo dari atas. Lebih worth it daripada harus ngantri Tokyo Tower. Dan yang paling penting, gratis 😀 Dari Stasiun Shinjuku ke TMG Building ternyata memakan waktu yang cukup lama dengan berjalan kaki, mungkin sekitar 30 menit. Kami melewati terowongan panjang sebelum keluar ke trotoar jalan raya.

Saat di TMG Building, Macan sempat berkomentar bahwa penjaganya orang-orang tua semua. Setelah saya amati lagi, memang benar. Dan lagi, gedung tersebut tampak sangaaaat sepi. Saya jadi khawatir, kalau ada penjahat masuk, yang nglawan tu penjahat para orang tua tersebut? Mampukah mereka?

Tujuan kami selanjutnya adalah Odaiba, sebuah pulau buatan di tenggara Tokyo. Timing kami ke sana sebenarnya salah, sudah terlalu sore. Kami sampai di Odaiba ketika matahari sudah terbenam. Kami jadi ga punya waktu untuk mengelilingi Odaiba yang ternyata sangat luas karena ingin kembali ke ryokan untuk menikmati Ofuro. Di Odaiba akhirnya kami hanya berkeliling sebentar, makan, dan sejenak menikmati kapal-kapal penuh lampu di laut. Untuk makan, di sini kami memesan makanan termahal selama trip ini. Jika sebelumnya makanan termahal yang kami beli adalah pake okonomiyaki, yakisoba, dan takoyaki seharga 1100 yen dibagi 2, kali ini kami memesan satu set masakan Pakistan/India dengan harga 1875 yen per orang. Salah satu alasan kami memesan masakan itu karena label halalnya, jarang-jarang kami menemukan sebuah restoran yang menampilkan sertifikat Halal. Oh iya, nama restoran tersebut adalah Khazana Restaurant, terletak di lantai 5 DECKS Mall Odaiba. Dan saya pribadi puas dengan makanan tersebut. Enak, dan kenyang 🙂

Latar Rainbow Bridge, Odaiba, Photo By Arga Purna Putra

1875 yen euy

Photo by M Taufiq Rahmananda

Lelah setelah seharian jalan-jalan, saatnya ngofuro. YAY, OFURO! Mandi air panaaaaasss!!! Sekilas saja, ofuro artinya pemandian air panas. Dan sifatnya public.  Salah satu alasan kami memilih nginap di Ryokan Kangetsu walaupun agak mahal karena ryokan tersebut menyediakan fasilitas onsen tersebut 😀 Tunggu dulu, publik, berarti mandi rame-rame? Yup, kita mandi rame-rame dengan orang lain. Tentunya terpisah cowok dan ceweknya walopun saya mengharap campur. Untuk mandi di onsen ada peraturannya tersendiri. Kita ga bisa langsung nyebur ke pemandiannya, tapi harus membersihkan diri terlebih dahulu. Jadi kolam air panasnya hanya untuk menghangatkan diri saja, bukan untuk membersihkan diri. Saat itu untungnya hanya saya, Macan, dan si Om yang make ofuro tersebut. Momen tersebut bener-bener SBY (Sesuatu Banget Yah) 😀 pastikan teman anda bukan homo sebelum memasuki ofuro dan berdoa tamu yang lain juga bukan homo

Fasilitas yang disediakan oleh Ryokan Kangetsu sendiri terbilang lengkap. Kami mendapat satu set yukata per orang selama menginap, ada handuk, sikat gigi, tivi, dan wi-fi di kamar. Di kamar kami juga ada bak air panas pribadi. Ada juga massage chair di living room. Kalo kita mo beli yukata, ryokan menjualnya dengan harga 2500 yen sepasang, lengkap dengan obinya. FYI, di Ryokan Kangetsu kami memesan kamar private 4 orang, tipe kamar tersebut tergolong bagus dan tentunya harganya juga lebih tinggi. Jika di Khaosan kami hanya membayar 2000 yen per orang, di Kangetsu kami membayar 4000 yen per orang.

setelah berendam di ofuro

Mandi sudah, perut juga udah kenyang (walo dompet kena damage lumayan telak), yang tersisa tinggal tidur. Sebenarnya saya sangat malaaaaas untuk tidur, lebih tepatnya saya ga ingin hari esok tiba. Esok adalah hari terakhir kami di Jepang, setelah itu kami harus meninggalkan negara ini dan kembali ke rutinitas masing-masing di Indonesia. Jujur, saya ga ingin waktu berjalan, saya ingin waktu kembali ke hari pertama saya di Jepang. Ga masalah deh ada Endless Eight kek di Melancholy of Suzumiya Haruhi. Tapi, we can’t fight the flow of the time, can we?

Jya, oyasumi 😦

Advertisements

3 responses to “Japan Trip, Part 5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s