Japan Trip, Part 4

9 Oktober 2011, Day 4

Hoaaaaahhm, jam brapa ya ini, kok di balik jendela kekna ada sinar terang. ASTAGA, UDAH JAM 9 KURANG! Kaget karena kesiangan (rencananya bangun pagi trus maen Wii di living room) saya langsung bangunin 3 orang lainnya. Kenapa kami bisa sampai bangun jam segitu? Penyebabnya adalah combo maut betapa PWnya kamar kami. Pertama, kasurnya empuk. Kedua, selimutnya lembut. Ketiga, lampunya mati. Keempat, jendela ketutup. Kelima, suasananya tenang karena yang lain sangat berhati-hati kalau keluar kamar. Keenam, fisik kami yang capek dan meminta waktu tidur yang luamaaaaaa. Maut kan?

Begitu bangun, kami berempat langsung berdiskusi jam brapa keluar. Karena check out paling lambat jam 11, jam segitu saja kami keluar. Masih ada 2 jam. Demi mengusir rasa kantuk, kami ke dapur di lantai 4 untuk bikin kopi. FYI, kopi, teh, susu disediakan gratis di dapur. Kita tinggal bikin sesuai selera kita. Setelah itu jangan lupa dicuci yang bersih karena ada tamu lain yang akan memakai perlengkapan kita. Rapi banget yah? Hostel tersebut mengajak kita untuk ikut menjaga kerapian hostel tersebut. Salah satu poin plus dari Khaosan Hostel. Ga nyesel deh nginep di sana.

Sesuai rencana, kami check out dari Khaosan Hostel. Terima kasih atas keramahan, kenyamanan, kemurahan harga yang diberikan, Khaosan. Kalau saya ke Kyoto lagi, saya akan memilih hostel tersebut sebagai tempat penginapan saya πŸ˜€ Arigatou Gozaimashita!

SMILEEEE!!!

Eh hampir kelupaan, saat kami check out, kami bertemu seorang traveller cewe dari Indonesia lho. Namanya Juliana. Dia berkelana mengelilingin Jepang sendirian lho. Keren kan? Saat kami tanya, ia bilang hari itu adalah hari yang ke 9 dia di Jepang dari total 15 hari tripnya. Wah, pengeeeeen. Pengen bisa libur panjang kayak gitu. Onore cuti bersama, ngrampok cuti saya! Mbak Juliana sempat ngasi tau kami bahwa ada tiket diskon shinkansen untuk seminggu. Kalo biasanya tarif shinkansen itu sekitar 20000 yen sekali jalan, si mbaknya dapat 4 juta rupiah untuk 6 hari. Jadi mo kemana aja make shinkansen ya cukup pake tiket seharga 4 juta itu tadi. Murah ya?

Selepas dari Khaosan, kami menuju Stasiun Kyoto untuk menaruh ransel di loker. Dan dari sana, kami beranjak menuju Kinkakuji, sebuah kuil di kawasan utara Kyoto. Sebelumnya di Khaosan kami membeli Bus Pass untuk menghemat. Karena menurut perhitungan saya kami akan naik bus sampai 4 kali dimana setiap kali naik bus harus bayar 220 yen, kami memilih Bus Pass yang hanya seharga 500 yen untuk naik bus sepuasnya pada hari itu. Perjalanan dari Stasiun Kyoto ke Kinkakuji cukup lama. Sekitar 30 menit lebih. Dan di bus kami menyadari bahwa dinding busnya ada lukisan anak-anak. Entah bagaimana caranya lukisan tersebut bisa terpasang di dinding bus tersebut

Kinkuji adalah Kuil yang terkenal karena ia berlapis emas. Yup, emas. Jadi warnanya kuning emas. Ga semua sih. Lantai atas saja yang belapis emas. Lantai bawahnya nggak. Tapi keren kan? Apalagi terletak di tengah danau yang disebut Mirror Pond karena kalo dapat sudut yang pas, danaunya benar-benar seperti cermin. Kita hanya bisa melihat kuil tersebut dan dilarang untuk mendekatinya. Iyalah, kalau boleh didekati ntar dicuri semua emasnya πŸ˜€

Kinkakuji

anata wa niji o mieru? (bener ga ya?)

Kami sempat berfoto bersama wanita yang memakai kimono. Sayangnya, karena ketololan saya, foto si Macan fail. Terlalu terang, lupa saya ubah settingannya. Maaf ya Macan :((

Di Kinkakuji kami sempat mencicipi masakan khas Jepang, Dango. Dan rasanya enak lho. Manis dan kenyal πŸ˜€ Yang beli sih Macan dan Tante, saya cuma ikut nyicipin. Hehehe. Ada tiga rasa yang kami coba. Rasa coklat, rasa kacang, sama rasa…errr…ketan itam? duh lupa =___= Yang penting enak lah :3

Dari Kinkakuji kami menuju Kyoto Imperial Park. Awalnya sih ingin ke kastilnya sekalian. Tapi karena hanya buka di waktu-waktu tertentu dan bukan pada hari kedatangan kami, jadi cukup di tamannya saja. Sayangnya karena perjalanan dari Kinkakuji ke taman tersebut makan waktu yang lama, hampir satu jam, waktu kami untuk tempat itu sedikit. Kami hanya masuk, jalan beberapa meter, lalu kluar lagi karena ga mungkin mengitari tempat seluas itu. Dan lagi kami masih punya lokasi yang lebih menarik, Fushimi Inari.

Untuk ke Fushimi Inari kami harus ke Stasiun Kyoto dulu karena ga ada bus langsung dari Imperial Park ke Fushimi Inari. Dan kami di troll oleh busnya. Sepertinya bus yang menuju Inari itu sedikit.Β  Hampir satu jam kami menunggu bus. Bayangkan saja ya, bis dengan nomor 205 yang menuju Kinkakuji udah lewat 6 kali dan bus Minami 5 ga ada satupun. Sebenarnya sih lewat satu, tapi kami ketinggalan bus itu karena kami sempat salah liat. Awalnya kami mengira bus yang membawa kami ke Inari adalah bus nomor 5, tanpa kata Minami. Jadi kami menunggu di halte nomor A1. Di halte tersebut kami melihat tidak ada kata Inari sebagai halte tujuan, jadi kami cek lagi peta jalur bus yang kami punya. Dan ternyata itu tadi, ada kata Minami untuk bus ke Inari. Dan ketika kami menuju halte tempat bus Minami 5 berangkat, kami ketinggalan bus.

Untungnya ada seorang Nihonjin (orang jepang) yang baik hati. Beliau sebelumnya bercakap-cakap dengan turis yang sepertinya berasal dari Taiwan. Saya menangkap bahwa turis tersebut juga ingin menuju Inari. Setelah itu, bapak tadi menghampiri kami dan menanyakan tujuan kami. Begitu tau bahwa kami juga ingin ke Inari, ia menyuruh kami menaiki bus nomor 81. Kami sempat ragu karena di peta ga ada rute bus nomor 81 walau ada keterangan bus itu berangkat dari halte yang sama dengan bus Minami 5. Tapi karena turis Taiwan tadi juga naik bus tersebut, kami ngikut. Di bus, bapak tersebut kembali berbaik hati. Ia memberikan kami secarik kertas yang mengatakan bahwa kami harus turun di halte mana agar bisa mencapai Inari dan kami sebaiknya mengikuti turis Taiwan tersebut. Wah, hontou ni arigatou na πŸ™‚ (sayang saya lupa motret kertasnya)

Saat memasuki kawasan Fushimi Inari, kami melihat ada penjual takoyaki. Wah, ayo nyicip takoyaki asli Jepang!

Rasanya….enak. Takonya gede. Bener-bener kerasa Takonya (tako=cumi). Satu porsi harganya 500 yen dan dapat 7 takoyaki. nyam nyam nyam.

Selesai makan tako, kami berjalan lagi memasuki Fushimi Inari. Salah satu incaran kami di sini adalah 1000 Tori/1000 Gate, rute menanjak gunung melewati gerbang merah yang konon berjumlah seribu. Dan sayangnya karena kami sudah kesorean sampai di sana, kami ga sempat mendaki semua gerbang tersebut. Hanya gerbang pertama 😦

Photo by Arga Purna Putra

Saat kami mengelilingi tempat tersebut, Macan menemukan pamflet yang menandakan bahwa akan ada pertunjukan teater jam 6 sore. Wah, boleh nih, nonton teater asli. Jam 6 lebih sedikit pertunjukan dimulai. Dan…..saya ga mudeng 😦 saya hanya bisa mengikuti dari ekspresi wajahnya. Selebihnya, nol. Dari yang saya tangkap, adegan pertama menunjukkan seorang Shogun dengan bawahannya sedang berdiskusi. Si shogun ini kekna rada nakal soalnya bawahnnya berkali-kali ngingetin gitulah. Dan kami hanya nonton satu babak :v

yang ini awal babak kedua, bukan yang shogunnya nakal

Lepas dari Fushimi Inari, kami menuju Stasiun Kyoto untuk nunggu bus Willer ke Tokyo. Karena jadwal berangkatnya jam 11 lebih, kami punya banyaaaaaaaaaaak sekali waktu. Muncul ide untuk nyari restoran okonomiyaki di sekitar stasiun. Jauh-jauh ke Jepang kok ga makan okonomiyaki sih, ga pa pa lah mahal sedikit πŸ˜€ Awalnya sih kami ingin nyari restoran yang bisa masak sendiri. Tapi nemunya yang dimasakin. Ywislah, mari makan okonomiyaki!

Seporsi gambar di atas harganya 1100 yen. Dan karena kami masih ingin ngirit, jadinya seporsi berdua. Satu orang bayar 550 yen, makanan mahal pertama nih. Hehehe. Rasanya lumayan lah. Takonya mantap, okonnya enak, cuma Yakisobanya aja yang kurang nendang. Kurang garam kayaknya.

Kenyang makan, kami lalu nongkrong di depan McD. Dan karena waktu juga masih ada banyak, kami mulai menghitung pengeluaran-pengeluaran kami sampai hari itu. Saya dan si Om memang nyatat dengan rinci tiap yen yang kami keluarkan. Untuk tiket brapa aja, untuk makan apa aja. Proses itung menghitung tersebut lumayan menghabiskan waktu, diselingi ngobrol tentunya. Dan ternyata catatan saya lumayan tepat. Hanya ada selisih sekitar 100 yen kurang. Saya takjub, baru kali itu saya bikin catatan pengeluaran dengan rinci (untuk rincian pengeluaran ini akan saya tulis di postingan tersendiri)

Ketika sudah waktunya check in bus, kami beranjak dari tempat kami dan mencari lokasi check in. Lokasi check in lumayan ramai, kekna banyak yang ingin ke tokyo atau kota lain dengan memakai jasa bus malam. Sistemnya juga rapi. Saya yang berniat check in lebih dulu dari jadwal ditolak dengan sopan oleh petugasnya, ia ingin mengutamakan yang memang jadwalnya dulu. Nice!

Jam 12 kurang, bus pun berangkat menuju Tokyo. Oke, sampai jumpa di Tokyo!

Advertisements

4 responses to “Japan Trip, Part 4

  1. Oooh God, pengen deh nyobain tako asli sanaaaa… πŸ˜€ πŸ˜€

    Oke nih dia nih, habis ini Tokyooo! πŸ˜†

    Ke Akihabara gak Mas? πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s