Japan Trip, Part 3

8 Oktober 2011, Day 3

Saya terbangun saat jam tangan saya menunjukkan pukul 6 pagi. Dan tak lama stelah itu supir bus Star Express (partner dari Willer Express) berkata bahwa kita akan segera tiba di tempat tujuan (atau seperti itu yang saya tangkap). Beliau menyebutkan gion, gion, gion. Wah, udah nyampe Kyoto nih. Segera saya bangunkan Tante yang duduk di sebelah saya, saat saya lirik Macan dan Om, ternyata mereka juga sudah mulai bangun. Dengan mengucek mata, saya kumpulkan roh saya yang sempat terbang ke dunia kapuk. Tidak seperti saat saya tidur di bus yang membawa saya mengarungi pantura Jawa, bus yang saya naiki bisa membuat saya tertidur pulas. Mungkin juga karena fisik saya yang capek setelah seharian jalan-jalan di sekitar Tokyo. Sekitar 15 menit setelah saya bangun, bis berhenti di Gion. Karena seingat saya letak penginapan kami berdekatan dengan Gion, saya berinisiatif turun di situ juga. Namun ditolak oleh supirnya, ia berkata ini masih Gion, bukan Stasiun Kyoto tempat saya turun seharusnya. Ah, karena saya ga tau harus menjawab bagaimana, saya turutin saja supir bus tersebut.

15 menit kemudian bus berhenti di Stasiun Kyoto. Wah, on time sekali. Tidak terlalu cepat atau terlambat. Saya heran bagaimana ia bisa menyesuaikan waktu setepat itu. Salut. Dan yang lebih bikin saya terkagum-kagum lagi, pelayanan yang diberikan bener-bener top. Perlu diketahui bahwa kami memesan bus kelas termurah. Kalo di Jawa mungkin kelas Bisnis ya. Kami hanya mendapat kursi tanpa selimut ataupun fasilitas-fasilitas lainnya seperti yang ada di kelas termahal. Tapi pelayanan yang diberikan saya acungin jempol. Saat saya check in bus, supir busnya mengecek nama saya dan jumlah kursi yang saya pesan. Setelah itu saat saya menaruh tas ransel di bagasi bus, saya diberikan nomor bagasi oleh petugasnya. Dari situ saya sudah terkesan. Kesan itu makin bagus ketika si supir berulang kali mengucapkan “arigatou gozaimas” kepada setiap penumpang yang turun dari bis. Sama seperti pramugari pesawat ketika penumpangnya turun dari pesawat. Pengambilan ransel juga berlangsung tertib. Penumpang yang lain tidak berebutan dan antre dengan tertib. Ucapan “arigatou gozaimas” kembali saya dapatkan ketika saya mengambil ransel saya. Wah, bener-bener menghargai pelanggan. Kapan Lorena, safari Dharma Raya, atau bis-bis jalur pantura seperti itu ya?

Karena saat itu masih pagi, udara tentu saja masih dingin. Sekitar 17 celcius mungkin. Bagi kami yang biasa hidup di daerah tropis yang panas, tentu saja suhu segitu sudah membuat gigi gemeletukan. Kami bingung mau ngapain dulu. Jam segitu semua tempat lokasi kami masih belum buka. Dan lagi kami berniat untuk ke Khaosan Hostel dulu untuk naruh ransel. Daripada bengong ga jelas di stasiun, kami mencari mart untuk sarapan. Kali ini saya membeli susu dingin. Tolol sih, udara dingin, bukannya beli yang anget malah yang dingin 😦 Setelah itu kami menghabiskan waktu di depan martnya, duduk-duduk seperti orang ga keurus sambil mempelajari peta rute bus yang kami dapatkan dari pusat informasi di Stasiun Kyoto.

nyampe di Stasiun Kyoto, Photo by Arga Purna Putra

Kyoto Tower, depannya Stasiun Kyoto

ketika waktu sudah menunjukkan pukul 8 kalo ga salah, kami beranjak menuju Khaosan Hostel, sebuah hostel yang lagi-lagi direkomendasikan oleh Claudia Kaunang. Di rencana awal saya, kami harusnya naik kereta untuk menuju tempat tersebut. Tapi karena melihat harga bus lebih murah daripada kereta, kami memilih untuk naik bus dan turun di halte Gion. Dengan tenangnya kami naik bis tersebut dan melihat-lihat pemandangan Kyoto.Lagi-lagi saya terkesan dengan pelayanan di Jepang, di bus kota seperti ini, supir bisnya juga mengucapkan “arigato” pada setiap penumpang yang turun. Waw.

Photo by Arga Purna Putra

Masalah baru muncul ketika turun dari bis. Kami bingung harus kemana, lupa nyetak rute ke hostel tersebut, hanya nyetak bukti reservasi. Yang kami tau hanya di sekitar Gion. Peta juga tidak berhasil kami temukan di sekitar halte. Beruntung di seberang jalan ada polisi (atau satpam ya, yang penting berseragam dan terlihat mengatur lalu lintas). Macan pun beraksi menanyakan letak alamat yang tertera di email reservasi yang kami cetak. Ternyata di seberang jalan ada peta. Menurut bapak tersebut, kami harus jalan sekitar 30 menit ke arah…err…bawah di peta untuk sampai di tempat tujuan kami. Oke, 30 menit doang ini, sama kek kos-kantor lah. Mari jalan kaki.

40 menit kemudian, karena kami berjalan tidak secepat orang jepang, kami sampai di Khaosan Hostel. Di sana kami disambut dengan ramah oleh staf resepsionisnya, Kyoko-san kali ga salah. Dengan ramah dan english yang baik ia melayani kami. Awalnya kami hanya ingin naruh tas dan lanjut ke lokasi tujuan kami berikutnya. Tapi karena badan mulai membau akibat ga mandi sejak dari Jakarta, kami  memutuskan untuk membayar fee tambahan untuk menikmati semua fasilitas hostel tersebut sebelum waktu check in. Cukup 500 yen perorang. Dan biaya itu sungguh worth it! Fasilitas yang dimiliki hostel tersebut lengkap. Ada living room di lantai 4 yang berisi 1 tv layar lebar, 5 komputer full internet, dapur, sofa yang empuk, dan buku-buku pariwisata serta komik. Di setiap lantai juga ada tulisan kecil sebagai petunjuk itu apa, ada apa aja, haru ngapain aja, atau seperti itulah. Nice. Bikin PW lah! Saking PWnya kami saat itu, saya sempat males untuk keluar hostel 😀

Photo by M Taufiq Rahmananda

Photo by M Taufiq Rahmananda

Setelah menghabiskan waktu berjam-jam berleha-leha di hostel, kami akhirnya keluar menuju Kiyomizudera pada jam 1 siang. Jangan kira itu tindakan geblek, keluar siang-siang bolong. Kami sama sekali ga merasa kepanasan. Memang matahari bersinar cerah, tapi ga bikin gerah seperti di Pontianak. Tidak seperti di Tokyo dimana kami naik kereta untuk ke lokasi, hari ini kami memilih jalan kaki. Sebelumnya si Macan sempat nyari tau seberapa jauh lokasi Kiyomizudera dari hostel. Masih bisa ditempuh dengan kaki, sekalian sightseeing Kyoto juga lah. Kiyomizudera adalah kuil Budha kuno yang dibangun pada tahun 798 Masehi (sumber Japan Guide) dan di dalamnya terdapat 3 air mancur yang katanya sangat berkhasiat, lupa untuk apa aja khasiatnya 😀 Karena saat itu hari sabtu yang berarti weekend, kawasan kuil tersebut dipenuhi para wisatawan, bahkan di jalan menuju kuilnya aja udah penuh orang. Untuk masuk ke kuil ini kami harus membayar tiket masuk sebesar 300 yen.

Yang namanya kuil, pasti ada yang jual jimat-jimat untuk macam-macam hal. ada yang untuk prosperity, family, love, dan lain-lain.

ada yang mau ini?

Selesai mengelilingin kuil tersebut, kami bermaksud keluar dari lokasi. Tapi mata kami  tertumbuk pada suatu tempat yang sepertinya kawasan pekuburan. Penasaran dan sepertinya menarik untuk jadi objek foto, kami hampiri lokasi tersebut. Benar rupanya, itu lokasi pekuburan, seperti tanah kusir lah. Dan luaaaaaaaaaaas banget. Banyak sekali makam di situ. Dan yang bikin kami heran, jalan di lokasi itu langsung menuntun kami keluar dari kawasan Kiyomizudera. Apakah itu termasuk secret entrance? Soalnya seingat kami ga ada penjaganya

Tujuan kami berikutnya adalah sungai…errr….duh lupa namanya. Kamogawa sepertinya. Kami sebenarnya sudah melintasi sungai tersebut saat berjalan menuju Kiyomizudera. Tapi karena ingin ke Kiyomizudera dulu, kami lewati sungai tersebut. Toh kami pasti melewati sungai itu lagi untuk menuju hostel. Kenapa sungai? sebab di anime-anime, dorama-dorama dengan tema slice of life kami sering melihat scene dimana si tokoh utama beristirahat di pinggiran sungai di sore hari. Sepertinya seru. Dan emang benar. Situasi di sekitar sungai sangat nyaman untuk menghabiskan sore. Di tambah lagi sungainya jernih. Enak banget deh.

Photo by Arga Purna Putra

Puas di sungai tersebut, kami kembali ke Hostel. Malamnya kami menuju kawasan Gion, sebuah kawasan red district di zaman dahulu kala dan sekarang terpelihara dengan baik ke-tua-annya (kata apa pula itu). Memasuki kawasan tersebut seperti mengarungi mesin waktu. kami melihat bangunan-bangunan tua terawat dengan baik, berbeda jauh dengan kawasan modern di sebelahnya.

Photo by Arga Purna Putra

Di gion juga kami sempat melewati kawasan yang yang “gemerlap”. Banyak sekali host club dan cabaret club di kawasan tersebut. Saya lupa nama jalannya sayangnya. Kalo kata Macan sih, jangan terlalu banyak tolah toleh di tempat itu. Nanti di seret masuk 🙂

Selepas dari Gion, kami hanya punya satu opsi, tidur! Tapi sebelumnya kami menyempatkan diri berleha-leha di living room. Kembali kami bertemu dengan kakek-kakek. Kali ini kakeknya berpotensi merepotkan kami. Ia membawa sake. Sebenarnya sih saya sempat tergoda untuk mencicipi sake tersebut, untung masih bisa menahan diri. Kami juga berusaha untuk tidak terlalu akrab, soalnya, lagi lagi menurut Macan, kakek seperti itu kalo sudah mabuk bisa-bisa maksa kami untuk minum sake juga.

Yah, akhirnya tiba waktu kami untuk tidur. Kamar yang kami tempati adalah tipe dormitory dengan 10 kasur. Jadi selain kami ada 6 orang lain di kamar tersebut. Kelebihan kamar tipe ini adalah murah. Termurah daripada tipe kamar lain. Kekurangannya? Ga ada. Colokan listrik ada di setiap kasur. Keamannnya juga terjaga karena setiap orang punya loker sendiri-sendiri. Kasurnya juga nyamaaaaaaaaaaaaan banget. Mungkin kebebasannya aja. Kita ga bisa bebas ngobrol dengan keras. Harus menghargai penghuni kamar lainnya. FYI, kamar ini kamar campur, cewek cowok tidur di kamar yang sama dan hanya terpisah ranjang. Khaosan Hostel sendiri menyediakan lantai khusus perempuan di lantai 3. Ada peringatan ketika masuk ke lantai tersebut bahwa itu adalah area khusus perempuan. Jadi bagi traveler cewe yang masih merasa ga nyaman di dorm campur bisa menyewa dorm khusus cewek.

Jya, oyasumi 😀

Advertisements

2 responses to “Japan Trip, Part 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s