Trip to…..

Hai blogger, kali ini saya ingin cerita tentang wisata. Tapi saya bingung, gimana mo mulainya. Gimana bikin kalimat pertamanya. Soalnya kalimat pertama itu bakal jadi patokan awal gimana saya bercerita. Hmmmm…pake pertanyaan aja kali ya?

Oke, pernahkah terpikir oleh para blogger sekalian untuk wisata? Jalan-jalan, lepas dari rutinitas kerja, kuliah, ato sekolah yang monoton. Kekna hampir semua pernah ya, kecuali para workaholic akut. Kemana kah tujuan kalian untuk wisata? ke laut? pegunungan? dalam negeri? ato malah luar negeri? Dan apa alasan kalian untuk itu?

Saya pribadi adalah orang yang suka jalan-jalan…..tapi dengan satu kondisi, ada temannya. Ajaklah saya jalan-jalan kemana aja, selama saya luang, pasti saya iyakan. Kalo sekedar jalan-jalan keliling Jakarta (waktu masi kuliah), saya rasanya udah berulang kali. Ke kota tua, ke Ancol, ke Dufan, ke Depok. Semuanya pasti rame-rame, ato paling ga berdua. Kalo jalan-jalan yang masuk kategori wisata sendiri bisa dihitung dengan jari. 3 kali ke puncak, 2 kali ke pulo seribu, sekali ke Bali, sekali ke Jogja. Dan tahun ini, saya punya rencana besar untuk berwisata ke tempat yang saya idamkan. Bisakah kalian menebaknya? Cluenya satu, tempat itu adalah tempat sumber hobi saya yg saya tulis di sticky post “Mari Ngeblog”. Bisa menebak? saya ga akan menyebut nama tempatnya lho. πŸ˜€

Ide untuk pergi ke tempat itu ada sejak awal 2011, diawali oleh teman saya yang tanya-tanya tentang visa tempat itu, sebut saja namanya Hakase. Dia bilang dia ingin nonton konser penyanyi idolanya di bulan maret. Saya lupa gimana persisnya, tapi yang saya ingat adalah teman yang lain, kita panggil dia Macan, bilang dia ingin ke tempat itu juga di pertengahan tahun untuk nonton konser juga dan saya bilang saya ikut. Waktu pun berlalu. Akhir januar-awal februari Hakase lalu bilang bahwa bulan maret dia ga bisa ke tempat itu karena suatu hal, kekna waktu tu karena ga dapat tiket. Macan juga ngecek kalo jadwal konser yang ingin dia liat bentrok dengan lebaran,Β  tapi dia masi ingin ke tempat itu tahun ini. Dan entah kesambet apa, tau-tau 4-5 orang lainnya bilang ingin ke tempat itu juga. Akhirnya kami, waktu itu sekitar 7 orang bikin rencana untuk ke tempat itu pada bulan september-oktober.

Awal februari kami dalam keadaan excited abis, penuh euforia. Macan dan Hakase, dua orang yang kami anggap paling ahli, bergerak cepat mencari referensi-referensi penginapan. Hakase juga dengan penuh dedikasi membuat peta tempat itu untuk mengetahui lokasi-lokasi tujuan wisata yang akan kami kunjungi dan dimana letak-letak penginapan yang kemungkinan akan kami datangi. Dan bikin daftar persiapan awal yang perlu kami lakukan, seperti bikin paspor, tanya tentang cuti, bikin kartu kredit bagi yang ingin bikin.

Waktu berlalu, dan kami vakum cukup lama dalam perencanaan ke tempat itu. Dan dalam rentang waktu itu pula beberapa di antara kami berpikir ulang tentang rencana wisata ini dan rencana hidup mereka. Mereka lalu mengundurkan diri karena menyadari ada prioritas utama tahun ini yang ingin mereka ambil, salah satunya Hakase. Akhirnya, sekitar awal April, hanya tersisa empat yang keukeuh dan yakin untuk pergi ke tempat itu, Macan, saya, dan dua orang lagi yang mari kita sebut dengan Tante dan Om XD

Sepeninggal Hakase, saya yang merasa ga gitu berguna di persiapan awal menawarkan diri untuk membantu Macan bikin rute perjalanan kami. Kami berempat lalu bergerak lagi. Dan kali ini benar-benar gerak serius. Macan yang berada di Jakarta menawarkan diri untuk jadi koordinator tiket. Kami mengumpulkan uang kami ke dia dan dia yang beli tiket kami berempat. Tiket terbeli di pertengahan April dengan harga yang, yah, cukup mahal tapi wajar untuk perjalanan pesawat sejauh itu. 4,5jt PP untuk penerbangan tanggal 6 dan 11 oktober. Dan pedihnya, sekitar dua minggu setelah tiket terbeli, maskapai yg bersangkutan mengadakan promo sehingga tarifnya bisa mencapai 2jt PP. Sakit pemirsa! Tapi ternyata setelah kami teliti lagi, promo tersebut hanya berlaku di hari-hari tertentu dan untuk hari wisata kami harganya sama. Ga jadi sakit πŸ˜€

Bulan Mei rute awal perjalanan kami udah jadi dan 3 orang lainnya tidak keberatan dengan rute yang saya buat. Tiket ada, rute ada, saatnya ke penginapan. Kami memilih 3 penginapan untuk wisata kami. Banyak ya? Hal itu karena jadwal kedatangan kami ketempat itu yang nyaris tengah malam. Dan kami pikir opsi tidur di bandara itu ga mungkin. Jadi kami mencari penginapan yang buka check in 24 jam. Untuk sekedar tidur aja. Penginapan kedua adalah penginapan utama karena kami bakal menghabiskan 3 hari di tempat itu. Penginapan terakhir adalah penginapan yang lumayan mahal bagi budget kami tapi worth it karena kami mengincar sesuatu di tempat itu. 3 penginapan tersebut terpesan sepenuhnya pada awal Juni.

Waktu kembali berlalu. Bulan Juli Macan berpendapat kalo jadwal kita selama di sana terlalu lowong. Di rute dan jadwal yang saya bikin memang terlalu lowong. 5 hari dihabiskan untuk satu kota saja. Macan mengusulkan untuk menambah kota tujuan. Kami bertiga setuju. Dan saya lantas membuat jadwal baru. Dari jadwal baru tersebut menunjukkan bahwa kami harus membatalkan 2 penginapan sebelumnya dan membeli tiket bus dan memesan penginapan baru. Membatalkan penginapan lama dan memesan penginapan baru bukan hal yang sulit. Yang sulit adalah tiket bus. Setelah kami melakukan penelitian di internet, harga tiket bus untuk mencapai kota kedua ternyata mahal. Lebih mahal daripada harga penginapan sehari. Tapi akhirnya, setelah berpikir itu adalah harga yang layak untuk pengalaman tambahan di kota kedua, kami setuju untuk membeli tiket bus tersebut. Dan karena tiket bus baru bisa dibeli pada bulan agustus, maka kami hanya memesan penginapan baru di bulan juli.

Awal agustus tiket bus terbeli, terbeli ya, bukan terpesan, dengan harga 1,3jt perorang. Dan sampai sini saya lalu melihat ulang perjuangan kami sampai detik itu. Kami sudah bertaruh sekitar hampir 6 jt untuk sebuah rencana yang belum pasti bisa terlaksana. Ada satu penghambat yang penting dalam rencana kami, visa. Tempat tujuan kami mengharuskan kami memiliki visa dan jujur kami waswas ga dapat visa. Hambatan ini telah kami sadari ketika awal perencanaan ini dimulai. Tapi tekad kami waktu itu kuat, kalo ga mau dibilang nekad. Demi memperbesar peluang visa dapat diperoleh, kami mempersiapkan segala persyaratannya dengan detil. Dan untuk itulah rute dan jadwal yang detil kami bikin. Karena menurut seorang tokoh terkenal dalam dunia wisata, rute dan jadwal yang detil sangat membantu keberhasilan permohonan visa.

Kalau mau dibikin persentase, menurut saya persiapan kami sebelum kami memperoleh visa adalah sebesar 30%. Memesan penginapan, membeli tiket pesawat dan bus adalah hal yang bisa dengan mudah dilakukan karena keputusan berada di tangan kami. Visa sendiri memegang peranan 60% dalam persiapan, karena sifatnya yang tak tertebak. Visa juga menjadi salah satu penegasan kepastian kami berangkat. Jadi, begitu visa didapat, 90% kami akan berangkat ke tempat itu. 10% sisanya untuk force majeur.

Dan perjuangan memperoleh visa dimulai pada akhir agustus dan awal bulan ini. Kenapa baru ngurus visa di waktu itu? Karena masa berlaku visa yang hanya 3 bulan. Jadi kami hanya bisa memesan visa dalam jangka waktu 3 bulan di sekitar oktober. Sekalian juga dengan cuti panjang lebaran. Menjelang libur lebaran kemarin, saya berulang kali memastikan persyaratan untuk permohonan visa sudah lengkap. Email-email pemesanan penginapan dan jadwal kami selama di sana saya kirim ke 3 orang lainnya dan saya pastikan mereka menerima email tersebut.

Tanggal 5 september, saya mengajukan permohonan visa. Tidak seperti yang saya bayangkan, pengajuannya tidak begitu rumit. Saya hanya memasukkan berkas-berkasnya ke satu loket dan sebagai gantinya saya mendapat tanda terima. 4 hari kemudian akan keluar hasilnya. Oke, 4 hari lagi jantung saya akan berdebar kencang menurut saya. Dan perkiraan saya sedikit meleset, esoknya sayaΒ  mendapat telpon dari tempat saya mengurus visa. Untuk wawancara via telpon. Dengan jantung yang deg-degan saya jawab pertanyaan demi pertanyaan, berharap jawaban saya memuaskan dan meyakinkan mereka untuk memberi saya visa. Dan alhamdulillah, 4 hari kemudian saya mendapat kabar baik. Visa saya diterima :D. Senyum saya tak henti mengembang saat saya menerima paspor yang sudah diberi visa. 90% saya jadi berangkat.

Kabar 3 yang lain bagaimana? Tante dan Om yang kebetulan harus mengurus bareng tanpa kesulitan berarti mendapatkan visanya. Macan yang mendapat masalah. Dia diharuskan membawa dokumen-dokumen tambahan untuk pengajuan visanya. Dan kami berdua berjuang sekuat tenaga dan biaya untuk melengkapi dokumen tersebut. Macan harus rela kembali ke rumahnya seminggu setelah cuti lebarannya selesai untuk memasukkan berkas baru hanya untuk mendapati bahwa salah satu dokumennya salah format. Pesimisme mulai membayangi saya. Bukan apa, kehadiran Macan di trip kali ini memberi rasa aman tersendiri bagi saya karena ia memiliki sesuatu yang kami bertiga lainnya tidak punya, kemampuan bahasanya. Macan tetap optimis dia masi ada kesempatan, dan alhamdulillah yach dia bisa memperoleh dokumen baru dengan cepat. Segera dia kirim dokumen baru tersebut dan menyerahkan semuanya pada Yang Di Atas.

Usaha dia berbalas. Visa ia dapatkan dan hari ini dikirim ke kantornya. YOSH! Tinggal persiapan-persiapan akhir! Kami berempat akan ke Tempat Itu minggu depan!

Mengakhiri postingan ini, bisakah kalian tebak apa sebenarnya Tempat Itu?

Advertisements

9 responses to “Trip to…..

  1. wah, banyak duit. Jadi inget temen-temen saya yang hari ini mau bikin passport karena november nanti mau nonton konser hatsune miku di singapura. Untung siangapura jadi gak perlu visa. Gut lak tripnya mas!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s