Animac Goes To Jatim (BANDWIDTH KILLER!)

Yow, jumpa lagi dengan saya, wahai para blogger. Kali ini saya akan bercerita tentang weekend kemarin yang bener-bener seru.

Weekend kemarin, tanggal 23-25 Juli saya pulang kampung sebentar, karena ada nikahan temen seperjuangan dan sehobi waktu di kampus, Aldhitar. Tempat nikahnya di Malang, jadi tentu saja saya bela-belain datang karena Malang cuma berjarak 2 jam dari rumah saya, Probolinggo. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui kan? Datang ke nikahan sekalian pulang ke rumah. Saya tidak sendirian datang ke nikahan si Aldhitar. Teman-teman sesama komunitas Animac yang di Jakarta juga datang, ada 8 orang rencananya, Tora, eYesCreaM, Grool, Chiro, Kid, Soul, Sese, dan sang admin Ananta. Kenapa rencananya? Nanti akan tau sendiri. Kembali ke nikahan, kalian semua tau kan kalo Probolinggo terkenal dengan wisata Gunung Bromonya? Nah, kebetulan anak-anak Animac yang mau datang ke nikahan itu kebanyakan blum pernah ke Bromo, cuma ada satu orang di rombongan itu yang udah pernah menikmati indahnya Bromo. Jadi sekalian saja saya tawarkan mereka untuk rekreasi ke Bromo. Toh waktunya juga ada karena acara akadnya minggu malam dan resepsinya senin. Kalo mereka datang hari sabtu, ada waktu satu hari untuk ke Bromo. Mereka setuju, jadi saya siapkan sebaik mungkin perencanaan biar semua berjalan lancar. Jadi kalo dirangkum, tujuan utama kami weekend kemarin adalah ke nikahan, tujuan kedua adalah ke Bromo dan tujuan eksta buat saya adalah pulang ke rumah. Mantep!

Saya lalu merancang rencana untuk ke Bromonya. Selaku tuan rumah yang baik tentu dong saya harus memberikan servis maksimal kepada rombongan itu. Dikarenakan perjalanan kali ini berlangsung saat dompet mulai sekarat(baca: akhir bulan), anak-anak minta rancangan biaya yang paling murah. Saya lalu berhitung, salah satu item biaya yang paling mahal n ga begitu penting adalah penginapan di Bromo. Oke, ga perlu nginep, toh jarak rumah saya ke Bromo cuma satu setengah jam. Kami bisa berangkat pagi butanya buat ngejar sunrise. Saya hubungin orang rumah, sapa tau ada kenalan yang punya usaha travel ke Bromo. Gayung bersambut, tante saya punya teman yang nyewain jip dan bisa dipake buat jemput kami dari rumah saya. Ga perlu ngoper-ngoper kendaraan lain (biasanya jip hanya nongkrong di sekitar Ngadisari, sekitar 5 km dari Bromo. Jadi kudu naek angkot lain ato nyewa agen travelling untuk ke Ngadisarinya) Kapasitas satu jip adalah 5 orang dengan harga sewa 600k untuk perjalanan dari rumah saya ke Bromo PP. Jumlah peserta rencananya 11 orang, 8 dari Jakarta, satu dari Pontianak, 2 dari malang (pacarnya Ananta dan adiknya). Nyewa 2 jip aja dah. Ntar satu jip sempit-sempit aja berenam. Jadi satu orang kena sekitar 120k. Oke, rencana ke Bromonya matang, rencana di Malangnya udah dipersiapin oleh si mempelai Aldhitar. Kami tinggal datang aja ke Malang.

Dan cerita seru ini dimulai sejak hari Jumat, perjuangan dimulai dari sini. Saya yang satu-satunya peserta rombongan yang tinggal di Pontianak berkorban potongan gaji karena kudu Pulang sebelum waktunya(PSW). Dan pengorbanan gaji berlanjut sampe hari selasa karena saya mengambil combo maut PSW-Ijin-TL(terlambat). Belum lagi harga tiket Pontianak-Surabaya yang cukup mahal. Terancam miskin bulan depan L Saya berangkat pukul 08.30 pagi dari Pontianak. Naik pesawat Sriwijaya Air tujuan Jakarta dan transit di situ sekitar 2-3 jam sebelum berangkat ke Surabaya (semoga penerbangan langsung Ponti-Sby segera dibuka!). Selama transit itu, saya memastikan kembali sapa aja peserta rombongan dari Jakarta. Ga ada perubahan sejauh ini. Saya tenang n ngabisin waktu di Bandara maen Tekken 6. Kabar ga enak mulai datang jam 3. Saya baru turun dari pesawat dan ngecek Hape, ada chat di grup Animac. Sese nanya kalo brangkat dari Bintaro jam setengah 5 masih sempet ato ga. Kerjaan dia banyak. Wew, selama sepengetahuan saya 3 tahun di Jakarta, waktu tempuh Bintaro-Pasar Senen (mereka naek kereta bisnis Gumarang dari Pasar Senen jam 6 sore) itu 1,5 jam paling cepet naek motor. Sedangkan sese bakal naek kendaraan umum P44 dari Kreo. Oke, terancam satu orang batal, semoga dia masih bisa ngejar.

Waktu pun berlalu, saya naek bus ke Probolinggo sambil ngawasin perkembangannya. Jam 5 saya hubungin lagi mereka, semua dah siap ke Senen, Sese udah naik P44, lancar katanya, tapi supirnya minta disantet, sering ngetem. Oke, masi ada satu jam, masi bisa ngejar. Jam 6 kurang 15 menit saya hubungin lagi. 5 orang dari 7 orang yang berangkat dari Senen udah datang (Ananta naek Gajayana dari Gambir), TAPI, si pemegang tiket, Soul, blum datang. Dimana dia? Kejebak macet di semanggi. Mampus, semanggi-senen normalnya 30-40 menit naek kendaraan umum. Asli mampus kalo sampe dia telat. Bisa berantakan semua rencananya. Terkutuklah Jakarta karena kemacetan gilanya. Sese? Di Blok M, sama, kejebak macet. No hope lah. Udah berpikir gimana saya ngabisin weekend selain di rumah. Anak-anak yang di senen juga panik. Mereka nyaranin Soul turun dari bis n naek ojek aja. Dan perjuangan Soul dimulai. Dia akhirnya turun dari angkot dan nyari tukang ojek. Waktu tinggal 15 menit, posisi masi di daerah semanggi. Hanya keajaiban yang bisa bikin dia ga telat. Dengan mengambil risiko hilang nyawa, Soul minta tukang ojeknya ngebut sengebut-ngebutnya biar bisa ke senen dalam waktu 15 menit. Dan tukang ojek pun mengabulkannya. Dia menembus kemacetan dengan luar biasa, ngebut di trotoar. Soul hanya bisa merem biar ga ilang nyawa karena mati ketakutan.  Keajaiban itu datang. Soul nyampe ke senen tepat 15 menit kemudian dan 5 menit setelah itu kereta berangkat. Fiuhhh. Tapi sayang, Sese ga seberuntung itu. Dia ga bisa ngejar dan terpaksa ketinggalan kereta. Satu korban jatuh. Tak apa, daripada 7 orang yang gagal brangkat?

Saya tiba di rumah sekitar jam 7 malam. YAY! KETEMU MAMA! SETELAH 3 BULAN! How I miss my lovely home so much, my home sweet home. Dan saya dapat kabar bagus tambahan, hari sabtu besok kakak angkat saya datang ma keluarganya dan ibunya yang dari Gorontalo. Waw, bakal rame rumah. Ada mungkin sekitar 20 orang di rumah. Nice!

Hari sabtunya tanggal 23 juli, demi menyambut para tamu tersebut, mama minta saya nemenin ke pasar untuk belanja (iyalah, masa mo ngrampok). Waaa, how nostalgic. Jadi inget pas SMA kelas 3 dulu, setelah UAN, masa-masa nganggur 2-3 bulan, tugas rutin saya nganter mama blanja. Menu yang bakal dimasakin mama adalah Woku dan gurami bakar, hmmm, yummy. Udah 3 bulan ga nyicip Woku mama yang enak itu.

Gmana kabar rombongan Jakarta? Mereka tiba di rumah sekitar jam 12 siang. Dengan senyum lebar saya sambut mereka. Dan terjadilah cobaan berikutnya. Soul yang asli sidoarjo menyerahkan tiket pulang 5 orang ke Tora karena dia sendiri baru pulang ke Jakarta minggu depannya. Tora mengambilnya dan memeriksa tiket itu. Ada keanehan, kok jam berangkatnya beda. Tiket yang satunya brangkat pukul 18.00, yang satunya 17.25. Lho kok? Seperti yang kita ketahui, satu lembar tiket bisnis maksimal berisi 4 kursi. Karena rencana awal yang pulang tanggal 25 ada 6 orang (5 yang berhasil nyampe, satu gugur) jadi formasi tiketnya 4-2. Jam berangkat yang tiket isi 2 kursi lebih lambat 30 menit. Kami cek tanggalnya, sama kok. Kami cek nama keretanya, sama-sama Gumarang. Kami cek stasiun keberangkatannya, BEDA! Yang 4 kursi brangkat dari Stasiun Pasar Turi Surabaya, yang 2 kursi dari Pasar Senen Jakarta. What the…

Panik lagi, gimana ini. Ini pasti kesalahan pihak KAI karena menurut Soul dia udah nulis lembar pemesanan dengan bener. Gmana mo protes ini, karena sepengetahuan saya, protesnya kudu ke tempat pemesanan tiket, yang artinya kudu di Jakarta, di Pasar senen. Hadoooohh. Tapi ga boleh nyerah, kita kudu coba ke Stasiun Probolinggo, sapa tau ada jalan keluar. Saya dan Soul bergegas ke stasiun sambil bawa tiket tersebut sebagai bukti. Di sana, soul protes dan minta solusi. Dan untungnya, pihak stasiun/KAI Probolinggo kooperatif. Thanks to Pak Heru yang udah berupaya semaksimal mungkin membantu kami. Meski sebenarnya memang kami kudu complain ke Senen karena pihak Probolinggo ga tahu-menahu tentang masalah ini, beliau bersedia menghubungin pihak senen dan mencarikan solusi terbaik bagi kami. Dan solusi itu adalah membatalkan tiket yang salah stasiun tadi lalu memesan tiket baru. Kami tinggal membayar 25% dari harga tiket baru itu karena pembatalan tiket lama mengembalikan 75% dari harga tiket lama tersebut. Dan nanti kami bisa complain ke pihak Senen sambil membawa fotokopi tiket yang udah distempel oleh pihak Probolinggo. Terima kasih banyak untuk Pak Heru.

Satu masalah kembali teratasi. Kami mulai ceria kembali. Menghabiskan waktu di Probolinggo dengan bersenang-senang, nonton di laptop soul, duel Tekken 6 di PSP, malam mingguan di alun-alun Probolinggo. 6 orang dari Jakarta lalu tidur sekitar jam 9-10 untuk menghemat tenaga sedangkan saya begadang karena masih ada yang bakal datang, Ananta dan pacarnya, Ony. Sekitar jam 1 pagi mereka datang dan setengah jam setelah itu jip yang saya pesen datang.

Kami berangkat menuju Bromo dengan persiapan yang lumayan. Tau sendiri kan gunung pasti dingin, apalagi pagi buta kek gitu. Jadi yang kami bawa adalah segala sesuatu yang bikin anget Jaket dua lapis ato jaket satu dan bajunya yang dua lapis, sarung tangan, syal ato sarung buat ganti syal, balsam buat tangan biar anget, dan tentu saja, kamera. Masa ke Bromo ga diabadikan sih? Karena ada 2 jip, maka rombongan dibagi dua. Sempet bingung mana yang bareng mana. Tapi akhirnya kami nurut ke saran iseng mama, yang jomblo jadi satu aja, yang pasangan di jip yang satunya. Jadi lah kami terbagi jadi 2 rombongan jip, Jomblo Ranger (saya, Tora, Kid, Soul, eYesCream(yang ini bujang lokal) n Couple Ranger (AnantaxOny, GroolxChiro)

Di sepanjang perjalanan kami lebih banyak tidur-tidur ayam. Ya paling ngobrol-ngobrol sedikit ma supirnya biar ga ngantuk tu supir. Tapi bagi saya pribadi, saya manfaatkan sebaik mungkin perjalanan itu untuk tidur. Lumayan kan dapat tidur 30 menit. Supir membawa kami ke rute penanjakan 2, tempat kedua untuk melihat sunrise di Bromo. Yang namanya tempat kedua tentunya bukan yang terbaik. Kok ga ke Penanjakan 1, spot terbaiknya? Jalan ke penanjakan 1 saat kami ke Bromo ditutup karena masih rusak akibat erupsi Bromo sekitar akhir tahun kemarin. Jadi rute yang bisa dilalui oleh Jip hanya penanjakan 2. Sekitar pukul 03.30 Jip berhenti di kaki Penanjakan 2. Dari tempat jip berhenti itu kami harus jalan kaki ke tempat melihat sunrise sekitar, hmmm, 30 menit jalan kaki kekna. Deket sih, tapi nanjaknya itu lho. Dingin pula, kami yang bukan pendaki gunung segera saja kecapekan setelah 10 menit nanjak. Apalagi ga ada yang bawa senter asli. Hanya soul yang kebetulan hapenya ada lampu senter kecil. Selain itu kami mengandalkan kekuatan bulan, akan menghukummu! (lho?)

Setelah berjuang selama sekitar 30 menit kami sampai. Masih sepi, udara makin dingin. Jari kelingking dan manis kiri saya mulai mati rasa. Biar anget kami mesen popmie. Satunya seharga 7500, mahal sih, tapi daripada kedinginan? Kan lumayan tuh kuah panas popmienya. Jam 4 lebih sedikit orang-orang yang tujuannya sama dengan kami, menikmati keindahan alam dan kebesaran ciptaan Tuhan YME mulai berdatangan. Ada kali sekitar 100 orang yang datang. Di kaki penanjakan, jejeran lampu-lampu jip berbaris rapi mengantarkan para penumpang mereka. Di kejauhan, lampu-lampu rumah menerangi desa-desa sekitar Bromo. Dan di langit bintang-bintang bersinar terang, bulan bercahaya riang meskipun bukan purnama. Sungguh pemandangan yang menyejukkan jiwa. Sejenak rasa dingin terlupakan. Yang ada hanya ketenangan yang damai.

Pukul 5 pagi kurang, warna kemerahan mulai muncul di langit timur, warna pertama yang muncul di pagi itu. Warna indah dari sang fajar yang terbangun dan siap memulai hari. Meski sayangnya sang fajar sendiri terhalang oleh pundak bukit dari tempat kami. Tapi itu tidak mengurangi kekhyusukan pagi. Masih teringat jelas oleh saya ucapan turis asing di sebelah saya, “look ,that’s awesome, isn’t it? This is most beautiful place I’ve ever seen.” Saya mengiyakan turis tersebut. Dengan mengalihkan pikiran dari beku dan mati rasanya tangan karena dinginnya udara, saya menghayati proses terbitnya matahari.

Setelah hari sudah cukup terang, sekitar pukul 6 kurang, saya dan kawan-kawan memutuskan untuk mendaki lebih tinggi. Ke tempat yang lebih tinggi dari spot kami melihat matahari terbit. Dan keputusan kami tidak sia-sia. Kami serasa berada di puncak dunia. Di hadapan kami terbentang Gunung Bromo dan Batok yang mulai diterangi matahari. Di sekitarnya mulai tampak hijaunya daerah pegunungan tersebut.

Ga sia-sia kami mendaki tebing yang lumayan terjal itu.

Puas menikmati pemandangan di penanjakan, kami turun dan berniat melanjutkan ke Savana dan Lautan Pasir sebelum akhirnya naik ke Kawah Bromo. Karena lokasi yang lumayan jauh, supir jip meminta tambahan 200k masing-masing mobil untuk ke Savana dan Lautan Pasir. Jadi total yang harus kami bayar 800k untuk masing-masing jip. Deal. Kami berangkat ke Savana. Dari penanjakan ke Savana lumayan lama. Ada sekitar satu jam. Kami turun dari penanjakan sekitar 7.30 dan sampe savanna sekitar 08.30. Di savanna, kami kembali berjumpa dengan keindahan alam, meski tidak dalam bentuk terbaiknya karena lagi-lagi belum pulih dari erupsi yang menghanguskan hampir smua bunga. Luasnya savanna berwarna kuning dan birunya langit yang cerah memberikan perpaduan warna alami yang indah. Tempat yang tepat untuk menciptakan berbagai foto bagus.

Di sini ada cerita lucu, Soul dan Kid yang kebelet pipis terpaksa mencari tempat tertutup di savanna untuk buang hajat. Hahaha. Semoga mereka ga lupa bersihin tangan pake daun.

Lepas dari savanna kami ke Lautan Pasir ato Sand Sea, salah satu lokasi syuting film Pasir Berbisik yang dibintangi Dian Sastro itu loh. Omong-omong Dian Sastro, dah melahirkan ya? Wah, Cinta udah punya anak. Ga terasa sudah hampir 7 tahun sejak saya melihat film AADC dan menangis saat  Cinta dan Rangga berpisah di bandara Soetta. Untuk Tora, jangan patah hati terlalu lama ya 😆

Back to Sand Sea, jika tadi kami disuguhi warna kuning biru yang menawan, kali ini kami disuguhi warna abu-abu elegan oleh alam. Di sini jiwa anak-anak seorang pria muncul. Ananta, Kid, eYesCream, Tora, Soul berlarian di lautan pasir tersebut, berlomba menciptakan jejak kaki. Kid yang paling gila, seakan terinspirasi film pengembara di padang pasir, setelah puas berlarian ia berjalan terseok-seok sebelum akhirnya menjatuhkan diri, tengkurap, di pasir. Kalo ada sutradara, kekna bisa diambil jadi aktor kau kid, jadi pemeran pengganti pas adegan mati di padang pasir :wahaha:

Tujuan berikutnya setelah Sand Sea adalah kawah Bromo. Dan untuk itu kami harus berjalan sekitar 2 km dari tempat jip mangkal (jip dilarang masuk ke kawah dalam radius itu. Ada pembatas di sekitar area kawah bromo dan Gunung Batok. Hanya kuda, motor, dan pejalan kaki(tentunya) yang boleh masuk. 2 kesempatan sebelumnya saya ke bromo, saya selalu naik motor hingga kaki Bromo. Tapi kali ini saya harus berjalan sejak sebelum pura. Oke, challenge accepted. Tapi sebelum menuju kawah, Jomblo ranger ma Couple Ranger berpisah. Couple Ranger nganterin yang cewe ke toilet sedangkan kami langsung ke kawah.

Kali ini kami ga bernasib baik. Daerah sekitar gunung penuh dengan debu dan pasir. Tiupan pasir di sepanjang jalan berkali-kali menyapa kami. Pakaian kami sudah penuh dengan debu  setelah melewati pura. Dan kami masih harus mendaki lagi, melewati tumpukan pasir yang lebih banyak lagi, dengan tenaga yang mulai habis, terkuras saat berjalan dari tempat jip ke Pura. To make things worse, rute tanjakan yang kami lewati dipenuhi bau belerang bercampur tokai kuda. Bener-bener cobaan untuk mencapai kawah. Bakso yang kami beli di sekitar Pura tak mampu menyediakan  tenaga yang cukup (5000 dapat bakso besar satu, tahu 2, bakso kecil 4). Berkali-kali kami berhenti untuk mengambil nafas. Dan selama perjalanan saya menggumam “ganbaru, ganbaru” untuk menyemangati diri dan Soul memutar musik lewat hapenya.

Sekitar 20 menit kemudian, kami sampai ke Tangga yang memiliki anak tangga sebanyak kurang lebih 250, satu-satunya akses menuju kawah bromo setelah sampai di kaki Bromo. 4 Jomblo ranger selain saya sepakat untuk menghitung jumlah anak tangga itu, karena ada mitos bahwa tiap orang akan mendapatkan hasil yang berbeda. Saya sudah masa bodoh dengan jumlahnya, saya sudah pernah menghitung dan hasilnya di sekitaran 240-250. Yang saya pikirkan adalah cepet sampe ke kawah. Kondisi Tangga tidak begitu baik, satu tahun setengah yang lalu tidak ada pasir bertumpuk di anak tangga, sekarang pasir bertumpuk demikian banyaknya sehingga menambah risiko tergelincir kalo tidak waspada. Kondisi kawah juga tidak kalah buruknya. Pagar pembatas yang merupakan pengaman agar tidak ada yang jatuh ke kawah rusak, hilang. Yang tersisa hanyalah besi-besi bengkok akibat panas saat Bromo erupsi. God, it’s dangerous, horribly dangerous. Kombinasi tidak adanya pagar pengaman dan struktur bibir kawah yang tidak begitu luas bagi orang lalu-lalang menciptakan kondisi yang cukup membuat saya ogah lama-lama di tempat itu. Saya harus berhati-hati setiap melakukan sebuah gerakan sekecil apapun. Salah pijakan bisa membuat saya tergelincir.

Sekitar 10 menit setelah kami, Jomblo Ranger, sampai ke kawah, kami melihat Couple Ranger sampai di kaki Bromo. Kami lumayan terkejut. Kami pikir mereka bakal menunggu di Jip karena saat kami menuju Pura, kami tidak melihat tanda-tanda mereka dan berpikir para perempuan kelelahan dan tidak mau mendaki. Dan pikiran kami salah. Mereka malah lebih cepat mendaki anak tangga itu. Cuma butuh sekitar 5 menit sedangkan kami menghabiskan sekitar 15 menit. Usut punya usut, ternyata mereka menggunakan jasa ojek kuda untuk sampai ke kaki bromo (50k bolak-balik, tapi harga untuk bule beda, 200k). Pantes aja

Kami tidak menghabiskan waktu lama di Kawah Bromo. Cuma sekitar 15 menit. Sekedar melepas lelah setelah mendaki. Perjalanan menuruni kawah tak kalah nyereminnya. Kepeleset sedikit aja bisa ngglundung di tangga. Bener-bener dah. Untuk satu tahun ke depan, saya ogah naik ke kawah lagi. Penanjakan, Savana, Sand Sea, oke. Kawah Bromo, A BIG NO, for at least 1 year, ato sampe infrastruktur pendukung di kawah kembali memadai.

Pulang dari Bromo kondisi kami benar-benar kucel, penuh debu. Padahal pas ke Bromo itu ada yang make Gakuran yang rencananya dipake buat ke resepsi Aldhi, termasuk saya. Karena ga mungkin untuk dicuci, jadi sesampai di rumah kami make sikat sepatu buat bersihin debunya. Lumayan lah bersihnya, layak untuk dipake ke resepsi.

Dan disini saya kembali menghadapi saat-saat yang sulit, berpisah dengan rumah, dengan mama. Sungguh, waktu masi magang di Surabaya dan bisa pulang seminggu sekali, saya sering enggan kembali ke Surabaya, apalagi sekarang, yang kesempatan pulang tergantung pada dompet dan kenekatan saya. Berat sekali mengucapkan “pamit ma”. Air mata rasanya udah mau tumpah aja. Apalagi saat mama meluk….oke, mata saya berkaca-kaca sekarang. Sampai jumpa bulan depan ma!

Perjalanan kami berlanjut ke Malang, tujuan utama kami, acara Akad dan Resepsi Aldhitar. Di Malang kami berjumpa dengan Dandoh yang rumahnya ternyata deket terminal dan nyewain kamar kost cewek. Dari Arjosari kami nyarter angkot ke Pasar Sukun. Aldhitar udah nunggu kami di situ. Yang mana bikin kami geleng-geleng kepala, ni mempelai cowok masi santai H-1,5 jam sebelum akad. Tapi salah kami juga sih, baru nyampe malang mepet-mepet. Gomen ne Aldhi.

Sesuai kesepakatan sebelumnya, kami ikut ke akad nikah Aldhi dan Riris. Rencananya akad dimulai setelah isya. Tapi kok jam 7 lewat masi blum brangkat ya? Aldhi udah mulai ga tenang, omongannya udah mulai nglantur-nglantur. Dan itu bener-bener ngaco. Dia bilang ntar kalo punya anak, anaknya dikirim ke Malang aja (Aldhitar penempatan Jayapura, FYI). Ntar dia siapin obat tidur biar ga kebangun selama perjalanan. Di kotaknya ditempel stiker “barang rapuh, jangan dibanting!” dan dia bilang itu ide cemerlang dan logis. SARAP! Dan saat kami iseng minta saran dari dia tentang nikah, dia bilang gini, “jangan telat kalo akad nikah nanti.” Wkwkwkwkw, kami hanya bisa tertawa.

Di perjalanan kami menuju tempat akad nikah, saya, Tora, Kid, dan eYesCream kebetulan semobil dengan keluarga Aldhi. Dua diantaranya cewek, salah satunya ponytail+megane. Combo maut sebenarnya. Tapi sayang saya ga punya keberanian untuk nyapa. Yang ada malah Kid ngajak ngobrol anime. Hahahahaha.

AND HERE WE ARE, OUR MAIN PURPOSE! AKAD NIKAH ALDHITARXRIRIS. Akad nikah aldhi berjalan lancar. Tidak ada yang teriak “GA SAH! BATALKAN PERNIKAHAN INI!” seperti di film-film (saya sempet berniat seperti itu, iseng, :wahahaJ. Dan kami merasa tersanjung diperbolehkan menyaksikan akad dari jarak dekat dan mengabadikannya lewat foto dan rekaman video. Selama merekam, senyuman saya tak hentinya mengembang. Saya juga turut deg-degan saat ijab qabul dilaksanakan seolah ikut merasakan ketegangan Aldhi. Dan saat ijab qabul selesai, saya menarik nafas lega. Turut bahagia atas resminya Aldhitar dan Riris sebagai pasangan suami istri. KEKKON OMEDETTO!!! Selamat menempuh hidup baru!!!

Melihat akad nikah itu, saya jadi pingin nikah. Tapi ama sapa yak? Ada yang mau daftar? XDDD

Selese akad kami kembali ke rumah Aldhitar, tapi kok, si pengantin pria ikut pulang? Kok ga tinggal buat “First Blood”? Ternyata dia masi blum boleh, soalnya belum Temu Manten, salah satu adat Jawa dalam prosesi pernikahan. Hmm, pengetahuan baru. Terpaksa Aldhi harus bersabar satu malam untuk “First Blood”. Wkwkwkwk

Besoknya, resepsi dilaksanakan. Kembali kami mendapat kehormatan untuk ikut mengiringi pengantin pria. Grool jadi pembawa payung, Soul dan Dandoh jadi tim pembawa seserahan. eYesCream jadi tukang video amatir. Saya, Tora, dan Kid ikut berjalan di tengah rombongan pengiring. Karena kedua pengantin sama-sama berdarah Jawa, resepsi dilaksanakan dalam adat Jawa. Naratornya menggunakan bahasa Jawa Alus, Kromo Inggil. Dan saya ga paham apa yang diomongkan. Saya hanya bisa bahasa Jawa Kasar, Ngoko. Prosesi berjalan lancar. Sesuai adat yang saya tau, ada pecah telur(ato mungkin salah, saya hanya melihat kaki aldhi menginjak sesuatu di depan mertua), suap-suapan nasi (so sweeeettt), sungkem ke ortu. Pertunjukan budaya yang khidmat.

Sayang sekali kami ga bisa lama-lama di resepsi. Kereta rombongan Jakarta berangkat dari Surabaya jam setengah 6 sore. Jadi kami harus cabut jam 1. Setelah bersalaman dengan kedua mempelai dan kedua orang tua, kami berangkat ke Surabaya. Kembali perjuangan dimulai. Perjuangan mengejar kereta. Belum juga perjalanan dimulai, Soul kembali nyaris apes. Hapenya ga ada ditas maupun di jaketnya. Setelah diingat-ingat, kemungkinan ketinggalan di Mobil yang ngantar kami ke terminal Arjosari. Dan benar, saat ditelpon, hape tersebut diangkat oleh Mas Dika, kakak Aldhi, yang ngantar kami. Untung beliau masi belum terlalu jauh dan bersedia kembali ke terminal.

Oke, perjalanan dimulai. Dan kali ini kami semua yg apes. Terjebak macet di Singosari. Satu setengah jam kami habiskan di kawasan itu. Padahal normalnya hanya butuh 15 menit untuk melewati daerah itu. Setelah cari info, ternyata ada karnaval, makanya jalannya ditutup. Apes dah. dan kami sempat nyaris mati. Bis berhenti di tengah rel sementara udah terdengar sirine tanda kereta akan lewat. Mampus. Macet gini pasti ga bisa maksain maju. Untungnya mobil depan pengertian dan entah bagaimana caranya bus kami bisa maju dan menjauhi rel. Fyuh.

Di bus, Tora segera mencari alternative lain karena diantara 5 orang rombongan itu, hanya dia yang ga ngambil cuti dan harus masuk besoknya. Diceklah situs-situs penerbangan, habis. Kalopun ada harganya 2jt. Hadew. Soul lalu menenangkan dengan berkata biasanya dia naik Argo Anggrek dengan tiket tanpa tempat duduk. Jadi duduk di kolong gitu. Tapi tak apalah. Daripada ga pulang.

Jalanan mulai normal setelah jam setengah 5. Dan jelas kami ga mungkin bisa tepat waktu sampai di Stasiun Pasar Turi jam setengah 6. Perjalanan Malang-Surabaya sendiri makan waktu satu setengah jam. Kami sampai di Surabaya jam 6 kurang dan langsung nyarter kijang ke Pasar Turi (50k ongkosnya). Selama perjalanan kami berdoa masi ada tiket Argo Anggrek tersisa karena jelas kami ketinggalan Gumarang. Satu-satunya harapan adalah Argo Anggrek. Untungnya masi ada tiket tersisa. Alhamdulillah.

Setelah dapat tiket dan bisa bersantai, kami bercanda bahwa perjalanan kali ini penuh dengan cobaan dan tumbal. Yang pertama soul nyaris telat dan mempertaruhkan nyawa dengan ngebut di trotoar Jakarta bersama Ojek. Yang kedua sese jadi tumbal, gagal berangkat dan rugi tiket PP. Yang ketiga tiket yang salah cetak dan baru ketahuan pas nyampe di Probolinggo. Terus hape soul yang nyaris ketinggalan. Dan yang terakhir semua rombongan Jakarta ketinggalan kereta. Tekor tiket 2 kereta karena harga Argo Anggrek 2x harga Gumarang. Hahaha. But well, kalo itu harga yang harus kami bayar untuk petualangan, rasanya ga terlalu mahal. Kami mendapat banyak pengalaman berharga. Menikmati indahnya Bromo (kecuali kawahnya) dan merasakan khidmatnya akad nikah.

That’s the end of my story. Waw, panjang juga ya. Yang bisa baca sampe akhir saya ucapkan selamat dan saya haturkan salut. Terima kasih banyak udah meluangkan waktu untuk membaca kisah saya ini.

And finally, SEE YOU SOON MY FRIEND ANIMAKU, SEE YOU SOON MOTHER!

Advertisements

2 responses to “Animac Goes To Jatim (BANDWIDTH KILLER!)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s