Relativitas, Perbedaan, dan Toleransi

Relativitas adalah salah satu teori yang dikemukakan oleh salah satu orang jenius dunia, Albert Einstein. Inti dari teori itu adalah   adalah bahwa dua pengamat yang bergerak relatif terhadap masing-masing akan mendapatkan waktu dan interval ruang yang berbeda untuk kejadian yang sama, namun isi hukum fisika akan terlihat sama oleh keduanya. (sumber wikipedia)

Perbedaan adalah  perihal yg berbeda; perihal yg membuat berbeda (sumber KBBI)

Toleransi adalah sifat atau sikap toleran: dua kelompok yg berbeda kebudayaan itu saling berhubungan dng penuh (sumber KBBI)

Kompromi adalah persetujuan dng jalan damai atau saling mengurangi tuntutan (tt persengketaan dsb) (sumber KBBI)

Dari 3 kata di atas, yang ingin saya katakan adalah, selain hal-hal yang telah disepakati secara universal seperti contohnya matematika, semuanya itu relatif, abu-abu. Utamanya terkait dengan opini, pola pikir, visi, cara memandang, dan sejenisnya. Hal itu terjadi karena adanya perbedaan, baik pengalaman, karakter, watak, lingkungan, dan lain-lain. Untuk itu dibutuhkan toleransi agar bisa rukun.

Klise kan? Umum kan? Biasa aja kan?

Well, memang demikian. Tapi kita susah lho menerapkan toleransi, tenggang rasa, atau apapunlah namanya itu dalam diri kita, dalam diri terdalam kita, dalam pikiran kita. Kita sering, saya sering menghakimi orang dalam pikiran saya ketika seseorang melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan maksud saya, tidak sreg dengan keinginan saya. Tapi apakah penghakiman, bahkan dalam pikiran kita pun, itu benar?

Ketika ada yang berbeda keyakinan dengan kita, berbeda pola pikir dengan kita, apakah lalu kita boleh menghakiminya?

Hmmm, kok seperti menggurui ya? Padahal ga ada maksud seperti itu. Hanya ingin mengingatkan.

Kenapa mengangkat hal ini? Well, terlintas aja. Mungkin terpengaruh dari filmnya Hanung yang terbaru, Tanda Tanya. Bagi yang belum nonton, silakan ditonton. Dan silakan berikan penilaian kalian bagi yang belum nonton. Tapi yang pasti, film itu mengingatkan saya kembali atas prinsip yang saya pegang selama ini dalam berinteraksi secara sosial. Perbedaan itu wajar, asal saling menghormati prinsip dan pola pikir masing-masing dan tidak menganggu. Utamanya terkait masalah agama, masalah yang sensitif di belahan bumi manapun.

Hmmm, okelah. I give up, walopun saya berusaha tidak mengaitkannya dengan agama, saya ga bisa. Karena agama adalah bidang yang paling tepat dalam menerapkan prinsip saya di atas.

Jadi, kembali ke Film Tanda Tanya, teman nonton saya berkata, “Chi, saya itu saklek lho. Keras lho.”

“Maksud?”

“Gimana ya, sebelum nonton tu film, saya baca artikel tentang kenapa film itu jadi kontroversial. Karena dalam Film itu Hanung seperti berkata bahwa semua agama itu benar. Saya ga sependapat. Bagi saya, agama saya yang benar, yang lain salah.”

“Lha emang begitu kan? Wajiblah bagi kita untuk meyakini agama kita benar. Tapi coba kita liat dari kacamata orang lain. Bagi mereka, agama mereka juga yang benar, kita yang salah. Dan bagiku, tadi si sutradara itu ingin memberi tahu hal itu. Bahwa, tiap-tiap orang punya pendiriannya masing-masing. Jadi perlu adanya toleransi dan kompromi. Jangan lantas hanya karena mereka berbeda lantas kita langsung nghajar.”

Seperti itulah kira-kira percakapan kami waktu itu. Kenapa bisa terjadi percakapan itu? Pemicunya adalah salah satu adegan si film tersebut dimana seorang karakter utamanya berkata, “…semua jalan setapak itu berbeda-beda, namun menuju kearah yang sama, mencari satu hal yang sama, dengan satu tujuan yang sama, yaitu: Tuhan.” Adegan ini mengundang kontroversi karena seolah-olah berkata, semua Tuhan itu sama. Well, penafsiran saya tidak demikian. penafsiran saya adalah seperti yang ada di paragraf atas, Agama, Tuhan saya, yang benar. Tapi semua orang juag berpikir begitu? Jadi? Silakan posisikan diri sebagai orang lain, bukan sebagai kita. Dan kita akan tau salah satu cara membuat kita bisa bertoleransi dan berkompromi.

Sekian dan terima kasih. Maaf atas ke”ngambang”annya

Hmm, semoga tidak terjadi, tapi sepertinya bakal banyak dapat komen menghujat karena isu ini sensitif. Ge-eR, sapa elu?

P.S. Jarang-jarang lho saya ngblog di hari sabtu-minggu

Advertisements

3 responses to “Relativitas, Perbedaan, dan Toleransi

  1. Oooooh jadi dialognya begitu ya? Kalo seperti itu, memang benar persepsi Chimanx. 😀

    Yang pasti, mana ada sih dari kita yang mau Tuhannya disamakan ama Tuhan agama lain? Nggak mau dong. Jadi wajar kalo masing2 umat beragama menganggap bahwa agamanya adalah yang terbaik. 🙂

  2. Kalau aku lihat di sini karena penafsiran sesaat di kata2 “satu tujuan yang sama, yaitu: Tuhan”
    Kalo aq menganggap kata2 ini yang kurang tepat, definisi dari kata2 ini bukan merujuk kepada pengertian “Tuhan” yg ada di KBBI, namun “Tuhan” di mana setiap manusia percaya kepada apa atau siapa dia bergantung….
    Dan sudah rahasia umum kalo apa atau siapa tempat bergantungnya tiap individu itu berbeda, dan “Tuhan” seperti inilah yang tidak bisa digambarkan secara utuh melalui kata2…

    Dalam English, “God” berarti “Tuhan”. Sedangkan dari kita “Dewa” maupun “Tuhan” juga “God” dalam English…
    Harus lebih bijak memang menafsirkan kata2 yang dangkal dari manusia ini…
    =P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s