Rumah (repost dari notes)

Tempat itu masih seperti dulu. Meskipun telah lebih dari 10 tahun, aku masih mendapatkan perasaan yang sama seperti saat aku masih sering memainkan gitarku di berandanya. Perasaan damai, disertai hembusan angin yang menambah semangatku untuk semakin asyik memetik gitarku. Masih teringat jelas dalam memoriku saat aku bermain gitar dan ditonton anak-anak kecil di sekitarku. Tatapan dan decak kagum mereka, membuat aku cukup percaya diri akan kemampuanku bermusik.
Tiang beton yang menjadi hal paling unik dari rumah ini masih sama seperti dulu, dengan pahatan naga melingkar seakan membelit tiang tersebut. Sungguh, saat ini pun aku masih belum memahami kenapa hanya tiang beton ini yang mempunyai pahatan naga, sedangkan hampir semua sisi dan jengkal rumah lainnya mengambil konsep minimalis yang hanya mengandalkan bentuk kotak yang kaku.
Puas mengamati tiang itu, aku mendekati pintu depan rumah itu. Tanganku sudah terangkat hendak mengetuk ketika aku teringat akan sesuatu. Pandanganku langsung mengarah kusen atas, seketika aku tersenyum saat melihat tulisan yang ku pahat penuh semangat saat aku masih penuh dengan keisengan. Sepertinya tidak ada yang menyadari aku membuat tulisan itu. Aneh, padahal aku yakin Mama dengan segala ketelitiannya pasti menemukan keisenganku ini. Berarti kemungkinannya adalah beliau sengaja membiarkannya.
Kuketuk pintu itu 3 kali dengan irama yang seharusnya dikenal oleh para penghuni rumah ini. Lama aku menunggu sebelum suara yang sangat kukenal terdengar dari dalam rumah
“Siapa ya?”
“Ini aku.”
Aku tahu orang dibalik pintu itu pasti bahagia saat mendengar suaraku. Aku tahu itu dari caranya memutar kunci yang tergesa-gesa. Dan begitu pintu terbuka, Mama langsung menghambur ke arahku dan memelukku. Masih penuh dengan kehangatan. Ku peluk ia dengan erat. Melampiaskan rasa kangenku yang telah terpendam lama. Ku pandangi ia, betapa wajahnya telah banyak berubah. Uban mulai menghiasi rambutnya yang lebat. Kerutan di dahinya semakin tampak jelas. Dan yang paling membuatku miris, ia menjadi semakin kurus. Jauh lebih kurus dibandingkan saat aku terakhir kali melihatnya, 10 tahun lalu. Ah, betapa waktu telah berhasil mengubah Mama, meskipun kehangatannya, aura kasih sayangnya tetap sama. Tetap mampu membuatku mengeluarkan air mata tiap kali memeluknya.
Setelah puas melampiaskan rasa kangenku, aku memasuki rumah. Memasuki tempat aku dibesarkan 10 tahun lalu, tempat aku menghabiskan masa-masa remajaku. Sekilas kulihat perabotan ruang tamu tidak banyak berubah. Akuarium kesayangan Papa masih ada meski ikan-ikan yang menghuninya telah berbeda. Lemari buku besar kesayangannya pun masih penuh sesak dengan koleksi buku-bukunya. Malah mungkin lebih sesak daripada 10 tahun lalu. Entahlah, aku jarang sekali menyentuh lemari itu kecuali jika tugas dari sekolah mengharuskanku membuka-buka ensiklopedi milik beliau. Hanya bagian ensiklopedi saja yang pernah ku buka. Baris nomor dua dari atas dan berada di bagian kanan lemari itu.
Ruang keluarga juga tidak banyak berubah. Hanya warna cat dinding saja yang berubah. Dulu berwarna hijau berpadu dengan kuning, sekarang merah muda dengan jingga. Cukup manis menurutku. Aku meneruskan penelusuranku ke kamarku, kamar pribadiku. Kamar yang menjadi saksi bisu akan segala aktifitasku di kala senggang. Entah itu tidur, melamun tidak jelas, mendengarkan lagu-lagu dari radio yang pembawa acaranya mencoba terdengar keren walau sebenarnya tidak sama sekali, atau memainkan gitar kesayanganku. Kesan pertama yang ku dapat adalah satu, putih. Semuanya serba putih. Putih oleh kain-kain putih yang menutupi segala perabot di kamar itu, lemari, kasur, meja, sampai-sampai gitarku. Semuanya tertutup rapi oleh kain putih itu. Mungkin untuk menjaganya dari debu. Satu-persatu kain-kain itu ku singkirkan, agar aku bisa kembali melihat dan merasakan kamar kesayanganku yang dulu.
“Gun.”
Aku menoleh ke arah suara itu.
“Gak mau makan dulu?”
Aku tersenyum dan mengangguk. Tentu saja aku ingin makan, menyantap masakan Mama yang tiada duanya itu. Yang sempat membuatku ogah menyantap masakah bahkan restoran paling mewah sekalipun. Ku ikuti Mama menuju dapur. Aroma telah tercium sejak saat aku keluar dari kamar. Aroma wangi ayam goreng dan sup. Favoritku. Dengan antusias ku ambil piring dan ku serahkan ke Mama untuk diisi penuh dengan nasi yang hangat. Bahkan aroma nasi pun begitu wangi. Sudah lama sekali aku tidak mencium aroma sewangi ini.
Dengan langkah riang aku menuju meja makan yang menjadi satu dengan ruang keluarga. Meja yang bersebelahan dengan taman kecil dalam rumah yang begitu hijau dan penuh dengan pot-pot bunga kesayangan Mama. Kolam ikan kecil kebanggaan Papa juga masih dengan baik menjaga ikan-ikan yang dengan antusias berenang. Masih ikan mas yang menggantungkan hidupnya di kolam itu. Ikan favorit Papa. Aku ingat dulu Papalah yang, atau mungkin satu-satunya orang di rumah, yang merawat taman dan kolam itu. Aku sama sekali tidak berminat pada ikan. Tidak ada interaksi yang bisa ku lakukan dengan ikan-ikan itu selain melihatnya berenang pada kolam kecil itu. Lebih menarik merawat seekor kucing. Kita bisa membelainya, bermain-main dengannya. Mengawasi tingkah lucunya saat ia mengejar bola benang, seperti yang selalu kulihat di salah satu tayangan televisi. Sayang Mama tidak memperbolehkanku merawat kucing.
”Kabar Papa bagaimana Ma?”
”Ya tetap seperti dulu, masih bandel kalo disuruh jaga kesehatan. Tiap hari ngelembur terus. Mama sampai capek ngingatin.”
”Masih belum pensiun?”
”Belumlah. Papamu itu baru akan pensiun kalo disuruh sama direkturnya. Dan direkturnya juga sampai sekarang masih enggan melepas Papamu.”
Aku tersenyum kecil, bangga akan Papa yang sampai usia menjelang 60 masih dipercaya atasannya. Sedangkan di tempat lain, usia segitu sudah cukup jadi alasan untuk memberhentikan pegawai.
”Ratih gimana?”
Mama tersenyum. ”Masih tetep cemas ma adikmu ya?”
Aku juga ikut tersenyum. Tentu saja aku cemas pada adikku satu-satunya yang paling manja dan manis itu. Masih kuingat jelas 10 tahun lalu saat ia baru menganjak SMP. Pesan pertama yang kuberikan padanya adalah jangan terlalu cepat berpikir kalo dia sudah besar. Dan jangan tergoda untuk cari pacar dulu. Ratih hanya tertawa kecil mendengar nasihatku itu. Meskipun aku waktu itu sungguh-sungguh mengucapkannya. Karena aku yakin para cowok-cowok ABG itu pasti akan berebut menarik simpati dan hati adikku itu. Dan aku tidak rela kalo yang mendapatkan hatinya itu cowok ga jelas.
”Dia akan pulang besok. Minggu tenang sebelum ujiannya.”
”Udah punya pacar dia?” ucapku dengan nada penuh selidik.
Mama tertawa lepas. Begitu lepasnya sampai air matanya keluar. Sudah lama tak kulihat Mama seperti itu.
“Kalau udah punya kenapa?”
Aku tak menjawab. Kalimat Mama tadi, dan tawa lepasnya sudah cukup menjawab pertanyaanku tadi. Sambil menahan malu ku habiskan makan siangku. Melihat tingkahku, Mama hanya tersenyum kecil. Mungkin baginya sudah lama sekali ia tidak melihat pemandangan seperti ini. Melihatku makan dengan lahap di meja ini. Dengan mulut yang mulai belepotan oleh nasi yang tertempel gara-gara gaya makanku yang cepat.
Setelah makan aku minta ijin ke Mama untuk beristirahat di kamarku. Melepas lelah dan rindu akan suasana kamar itu. Mama hanya menganggukkan kepala. Aku tahu beliau masih ingin berlama-lama denganku. Tapi aku juga yakin beliau tahu kebiasaanku yang sangat suka menghabiskan waktu di kamarku.
“Mau Mama bantu pasang sprei?”
Ku gelengkan kepalaku. “Ga usah Ma. Aku sendiri saja. Sprei ditaruh dimana?”
“Di lemari bawah. Cari aja disitu.”
Ku buka lemari yang dimaksud. Sebuah lemari yang berusia hampir 30 tahun, peninggalan nenekku dan hadiah perkawinan Papa dan Mama, begitu kata Papa ketika aku bertanya tentang disain lemari yang kuno itu. Meskipun kuno, aku akui, kualitasnya benar-benar bagus. Walaupun sudah berusia segitu, lemari ini tetap kokoh tanpa ada satu rayap pun yang menggerogotinya. Sementara lemari-lemari lain di rumah ini telah berapa kali gagal menjaga baju-baju dari serbuan rayap.
Aku tak langsung mengambil sprei. Perhatianku tertumbuk pada tumpukan baju di rak atas. Baju-baju lamaku rupanya masih disimpan Mama. Padahal sudah 10 tahun. Air mataku sedikit tak terkendali saat aku menyentuh tumpukan baju-baju itu. Sebuah rasa nostalgia dengan kencang menyerbu pikiran dan perasaanku, membuat dadaku sesak. Tak ingin berlama-lama dengan sesak itu, aku langsung mengambil sprei. Dan rasa sesak itu semakin menjadi ketika ku dapati bahwa bahkan spreipun masih sprei yang sama. Sambil menahan agar air mataku tidak meluap, ku pasang sprei itu. Setelah sprei dan sarung bantal terpasang, iseng ku perhatikan lagi kamarku. Sebuah kesalahan karena aku sadar bahwa kamar ini adalah kamar yang sama dengan kamar 10 tahun lalu. Tata letak kasur, lemari, meja, dan bahkan gitarku masih sama seperti saat kutinggalkan. Tidak berubah semilipun. Dan kali ini aku benar-benar tidak bisa menahan air mengalir dari mataku.
********
Perlahan ku buka mataku. Terasa basah. Aku terdiam sejenak. Tatapanku menerawang langit-langit yang penuh dengan sarang laba-laba itu. Aku duduk. Tanganku meraba-raba di sekitar bantalku, mencari benda yang sangat ku jaga. Sambil tanganku mencari, ku pandangi ruangan ini. Ruangan 3×3 meter dengan pintu berupa jeruji besi yang sudah mulai menyerah dengan karat. Tak ada yang baru. Memang tak mungkin ada yang berubah selain semakin bertambahnya karat di jeruji besi itu dan sarang laba-laba di setiap sudut dinding. Tanganku menemukan benda yang kucari, yang tanpa pikir panjang langsung hadapkan ke tatapan mataku. Foto itu sudah benar-benar termakan waktu. Tapi senyuman orang-orang di dalam foto itu tak akan pernah berubah. Tak akan pernah berubah.
“5 tahun lagi, Ma, Pa, Dek.” Ucapku lirih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s