Jakarta, loathe it, or love it?

Sebuah judul yang kontradiktif kan? Loathe and love, benci dan cinta. Kenapa bisa seperti itu? Mari kita runut

Waktu SMA, ga pernah ada bayangan aku bakal menghabiskan waktu yang lama di Jakarta, di ibukota Negara ini.  Impianku waktu itu kuliah di Surabaya ato ga di Malang. Selain impian kuliah itu, memang dasarnya ga tertarik hidup di kota itu. Sampai dengan SMA kelas 3, sudah 2 kali aku mengunjuni kota itu. Dua-duanya dalam rangka rekreasi sekolah. Dan dalam 2 kesempatan itu tak sedikitpun terlintas ingin menetap di kota itu. Hanya ada satu alasanku untuk hidup di sana, kuliah di STAN kalau aku diterima di sana. Dan ternyata, saya gagal masuk ITS dan diterima di STAN. Maka saya pun berangkat ke Jakarta.

Dengan kuliah di STAN berarti aku punya banyak waktu untuk mengenal kota itu. Kesan pertamaku, hmmm, mungkin penggambarannya seperti ini,  “Wah, saya sekarang di ibukota negara. Kek di film-film.” Ada rasa bangga tersendiri bisa hidup di ibukota negara, di tempat yang sama dengan para presiden dan orang-orang penting lainnya. Tapi tetap, saya ingin kembali pulang ke Jawa Timur. Kenapa? Tentu saja alasannya karena orang tua. Di Probolinggolah kedua orang tuaku hidup. Benar-benar keturunan jawa kan? Ga seperti orang Minang yang perantau. Aku memang suka jalan-jalan, mengunjungi tempat baru, tapi cuma sebatas itu. Ketika aku di tanya di mana tempat aku ingin menghabiskan sisa hidup, akan ku jawab Probolinggo.

Oke, kembali ke Jakarta. Waktu terus berjalan, dan saya menemukan poin-poin penting untuk menolak hidup di kota ini. Pertama kemacetan. Aku cukup beruntung tinggal di kawasan Bintaro yang jarang kena banjir, jadi banjir ga masuk hitungan. tapi buatku, yang sering mengendara motor di jalanan sepi dan bisa menggeber motor sampai 100km/jam (cuma sekali, paling sering 70), berkendara di Jakarta adalah siksaan. Di Jakarta kecepatan 60km/jam sudah seperti 100km/jam. Belum ditambah dengan panasnya, bau asap knalpot. Benar-benar ga kebayang jika saya harus hidup di tengah kondisi seperti itu. Lalu ada lagi masalah biaya hidup, termasuk rumah. Hidup di Jakarta berarti harus siap dengan tingginya biaya hidup, apalagi di daerah pusat. Tinggal permanen di Jakarta berarti harus siap menghadapi cicilan lebih dari 15 tahun. Dan saya masih heran dengan kondisi seperti itu, kenapa masih banyak yang berminat datang ke Jakarta.

Khusus untuk masalah kemacetan yang berarti menyangkut masalah transportasi itu, saya sering tertawa sinis, kenapa di kota yang katanya kota terbesar di Indonesia, kota termaju di Indonesia, kota tercanggih di Indonesia, masih ada angkot-angkot jelek yang bahkan kalah dari angkot di kotaku  sendiri, Probolinggo. Coba kita lihat bagaimana kondisi Kopaja, Metromini, Angkot di Jakarta. Seakan belum cukup kondisi kendaraannya yang mengenaskan dan selayaknya untuk pensiun, ditambah lagi dengan sikap para pengemudinya. Menemukan supir yang baik dan santun sama seperti mencari jarum dalam jerami. Ada, tapi sangat sedikit. Saya heran kenapa proyek yang lebih bisa mencerminkan kota besar seperti monorail itu mangkrak di tengah jalan. Dan sekarang ada lagi proyek MRT. Semoga saja nasibnya tidak seperti monorail yang hanya menghasilkan tiang-tiang tak berguna.

Tapi saya juga menemukan poin penting untuk tinggal di kota ini. Kampus, dan kawan-kawan. berbicara tentang aku dan Jakarta, maka Kampus pun ga bisa terlepas. Di STAN aku mengalami masa-masa yang paling berkesan. Pertama kalinya bebas dari Ortu, pertama kalinya menghandle uang sendiri, pertama kalinya menemukan teman-teman yang bener-bener kemana-mana bareng, pertama kalinya bertemu komunitas yang sesuai dengan hobi, pertama kalinya dengan serius mencintai dan gagal dengan suksesnya. Kosku di Sarmili 42C villa kertajaya sudah serasa rumah sendiri. Menempati kamar yang sama 3 tahun berturut-turut, mengikuti perubahannya selama 3 tahun. Dengan anak-anak Animac mengunjungi berbagai event jejepangan, mengarungi Jakarta malam-malam. Dengan 4 sahabat, Doni, Wenny, Adit, Nisa, berbagi susah dan senang bersama, mencoba bertahan di kampus itu (well, technically, hanya saya yang berjuang. Yang lainnya IPnya gede-gede semua). Menghibur dia yang lagi stress karena patah hati, mengalami satu minggu tersibuk dalam hidupku.  Semua itu benar-benar berkesan. Benar-benar kenangan yang indah dan jelas tidak akan hilang. Sebagai perbandingan, saya bahkan tidak bisa mengingat detil saat saya SMA.

Waktu lalu semakin membuatku bingung akan sikapku terhadap Jakarta. 3 dari 4 sahabat tadi terancam menghabiskan sisa hidupnya di Jakarta. Para anak-anak animac banyak yang penempatan di Jakarta. Dan di saat yang sama, Jakarta tidak menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Kemacetan masih ada dan terancam macet total beberapa tahun lagi. Aku sering merasa iri ketika memandangi lewat pesbuk para kawan itu sering berkumpul bersama. Tapi ketika membayangkan kembali kemacetan Jakarta, tingginya biaya hidup di sana, dan, yang pasti mengikuti, stress kerja, saya berpikir, kuatkah saya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s